radarlamongan.co - jawaposradarlamongan - Kuliner legendaris dapat menghubungkan masa lalu dan masa kini lewat sebungkus kelezatan. Di warung Gado - Gado H Miun, kenangan masa kecil bisa hadir kembali dari rasa yang sama.
GAMAL A, Radar Lamongan
Waktu boleh saja merambat pelan, menyapu sudut - sudut Pasar Baru Lamongan dengan debu dan kenangan. Namun di salah satu sudut Pasar Tingkat itu, ada kehangatan yang tak pernah berubah sejak pertengahan abad lalu. Bau harum kacang sangrai dan racikan bumbu yang seolah menolak tunduk pada gilasan zaman.
Di sinilah Gado - Gado H Miun bertahan. Sebuah nama sederhana yang memeluk sejarah panjang sejak 1955. Dahulu, H Miun merajut rezeki dengan mengayuh langkah, menjajakan gado - gado keliling sudut Kota Soto. Jalur jalanan telah berganti dandan, namun racikan rasa itu tetap menemukan rumahnya di Pasar Baru Lamongan. Bahkan, tiga generasi telah berganti.
Saat ini, estafet kuliner legendaris itu diteruskan Eviv Mudlifah bersama sang ibu. Bagi Eviv, merawat warisan sang kakek bukan sekadar menjual sepiring makanan, melainkan menjaga ingatan kota yang terangkum dalam sebungkus bumbu kacang.
"Kalau saya disini hanya melayani Mas. Ibu saya yang membuat bumbu semua," ucap Eviv.
Dia ikut menjaga warung gado — gado itu sejak 2018. Meski sudah lama, Eviv belum berani untuk meracik bumbu sendiri. Gado - gado H Miun memiliki ciri khas sendiri: tanpa sentuhan irisan tomat seperti gado - gado modern. Piringnya hanya diisi potongan lontong, kentang, timun, tahu, telur rebus, taoge, dan selada segar. Semuanya kemudian dibalur saus kacang kental yang gurih — manis, rasanya cepat akrab di lidah.
'Saat ini, lontong habis 100 biji serta 3 kilogram bumbu kacang setiap harinya," terang Eviv.
Baca Juga: Kuliner Lodeh Balungan Sapi yang Menggugah Selera
Bagi banyak orang, sepiring gado-gado ini adalah mesin waktu. Terutama saat mudik lebaran tiba. Lapak sederhana di Pasar Tingkat ini mendadak riyuh oleh derap langkah para perantau yang merindukan rumah. Ada nostalgi yang mengalir pelan di antara gigitan lontong dan siraman bumbu kacang. Mereka yang dulunya digandeng erat oleh sang ayah saat masih kecil, kini datang kembali—membawa serta pasangan dan buah hati mereka untuk mengecap kenangan yang sama. (*/yan)
Editor : Arya Nata Kesuma