Advertisement
Advertisement
Advertisement

Menitip Rindu dalam Butiran Sambal

R
Penulis: Rika Ratmawati❯

TERUS BERKEMBANG: Ratna Wati mengembangkan usaha sambal kemasan dengan tiga varian, pecel, sate, dan gado — gado.
TERUS BERKEMBANG: Ratna Wati mengembangkan usaha sambal kemasan dengan tiga varian, pecel, sate, dan gado — gado.


Advertisement

radarlamongan.co - jawaposradarlamongan - Ratna Wati merajut asa. Melalui butiran sambal kering, dia ingin rasa rindu akan kampung halaman bisa diringkas dalam kemasan praktis yang tahan lama.

Pelaku UMKM asal Lamongan ini bukanlah pendatang baru dalam belantara dunia kewirausahaan. 

Namun, lewat sambal, dia seolah menemukan jodoh kreativitasnya.

Advertisement

Berawal dari sambal pecel yang akrab di lidah, garis nasib membawanya pada sebuah permintaan dari seberang lautan, Hongkong.

Sang pemesan memintanya memproduksi variasi sambal yang lebih beragam.

Dari sana, terpikirlah membuat sambal sate dan gado - gado. Tiga produk tersebut ternyata bisa diterima.

Advertisement

Setiap minggu, Ratna harus memproduksi sambal untuk memenuhi permintaan pasar. Apalagi, produknya juga bisa menembus pasar modern.

“Alhamdulillah pemasaran sudah lebih baik, jadi harus fokus dulu sebelum pengembangan varian lain,” ujarnya.

Karena produknya tanpa bahan pengawet, sambal itu bisa bertahan tujuh bulan.

Sambal yang teksturnya kering tanpa minyak, ini bisa langsung dimakan dengan cara ditaburkan maupun ditambahkan air. 

Pemerintah melalui Dinas Koperasi, Perindustrian, dan Perdagangan Lamongan turut menjadi angin yang meniup layar bisnis Ratna.

Melalui kurasi bisnis, sampel sambalnya telah menyapa pasar internasional, Hongkong dan Malaysia, sejak Oktober lalu.

Sebelum memenuhi kebutuhan konsumen dalam kurasi bisnis, Ratna lebih dulu memasarkan produknya ke luar negeri seperti Singapura dan Arab Saudi.

Dukungan berupa pelatihan kemasan, sertifikasi halal, PIRT, hingga edukasi ekspor menjadikan pondasinya untuk terus melangkah.

Produknya yang telah mengantongi izin BPOM itu, bukan sekadar sebagai komoditas. Melainkan penawar bagi para perantau asal Lamongan yang rindu akan sengatan rasa tanah kelahiran di negeri orang. (rka/yan)

Advertisement

Artikel Terkait

Gado - Gado H. Miun Lintasi Tiga Generasi Merawat Rasa, Menjaga Ingatan 

Gado - Gado H. Miun Lintasi Tiga Generasi Merawat Rasa, Menjaga Ingatan 

Sebuah nama sederhana yang memeluk sejarah panjang sejak 1955. Dahulu, H Miun merajut rezeki dengan mengayuh langkah, menjajakan gado - gado keliling sudut Kota Soto.

Petambak Kerapu dan Petani Melon di Lamongan Nikmati Manfaat Teknologi AIoT dari Komdigi

Petambak Kerapu dan Petani Melon di Lamongan Nikmati Manfaat Teknologi AIoT dari Komdigi

Penerapan teknologi digital Artificial Intelligence of Things (AIoT) dalam budidaya kerapu dan melon di Kabupaten Lamongan berjalan sukses.

Viral Video Siswa di Lamongan Bawa Ponsel Saat TKA, Kepala MA Al Muslimun Akui Kecolongan 

Viral Video Siswa di Lamongan Bawa Ponsel Saat TKA, Kepala MA Al Muslimun Akui Kecolongan 

Video diduga siswa di Lamongan menggunakan ponsel saat ujian tes kemampuan akademik (TKA) menghebohkan jagat media sosial X.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer