Advertisement
Advertisement
Advertisement

Melawan Zaman dengan Resep Tradisional

M
Penulis: M. Gamal Ayatollah❯

BUAH KESABARAN: M Nasrudin menunjukkan jenang buatannya di rumahnya di Kelurahan Sidoharjo, Lamongan.
BUAH KESABARAN: M Nasrudin menunjukkan jenang buatannya di rumahnya di Kelurahan Sidoharjo, Lamongan.


Advertisement

radarlamongan.co - jawaposradarlamongan - Ada harga yang harus dibayar untuk sebuah kelembutan. Di sebuah dapur di lingkungan Demangan, Kelurahan Sidoharjo, Lamongan, M Nasrudin sedang "bertarung" dengan waktu. 

Di depannya, kawah besar berisi adonan pekat berwarna gelap terus meletup - letup.

Asap tipis membumbung, membawa aroma gurih santan yang berkelindan dengan manisnya ketan hitam.

Advertisement

Bagi Nasrudin, membuat jenang bukan sekadar perkara mencampur bahan. Ini adalah ritual kesabaran.

Butuh waktu berjam — jam untuk pengadukan agar memastikan adonan itu benar-benar tanak.

Teksturnya kalis dan minyak alaminya keluar sendiri dari santan.

Advertisement

"Untuk pengolahan, sangat lama," katanya. 

"Pembuatan bisa 6 sampai 7 jam lamanya hingga menjadikan matang jenang tersebut, " bapak dua anak ini.  

Nasrudin memilih nama Ki Demang untuk disematkan pada produknya. Nama itu bentuk penghormatan pada tempat tinggalnya: Demangan. 

Perjalanan Nasrudin mencari "takdir" di dunia jenang dimulai pada 2013. Awalnya, membuat jenang itu hanya sambilan.

Titik balik terjadi pada 2018. Saat itu, pesanan mulai meluap. Dia akhirnya fokus membesarkan usahanya sendiri.

"Saat itu mulai ramai pemesanan jenang buat oleh — oleh hingga yang lainya saat mudik lebaran," kenangnya. 

Jenang buatan Nasrudin menjadi pilihan bagi mereka yang rindu panganan tradisional di tengah gempuran camilan modern yang serba instan.

Saat panen di musim mudik lebaran, dapur Ki Demang bisa mengolah tiga kuintal ketan hitam dalam dua pekan untuk memenuhi permintaan toko oleh - oleh yang kerap kehabisan stok.

Sedangkan pada hari biasa, Nasrudin cukup mengolah sekitar 50 kilogram bahan per minggu yang menghasilkan sekitar 100 pak jenang. 

Meski tampilannya sederhana, hanya campuran ketan hitam asli, santan kental, gula pasir, dan taburan wijen sangria, jenang ini punya karakter yang kuat. Teksturnya sangat lembut, meski konsekuensinya adalah masa kedaluwarsa yang singkat. Harga yang dipatok, Rp 27 ribu per pak.

"Untuk jenang ketan hitam ini, sangat lembut. Kadarluwarsanya hanya satu minggu lamanya, usai pembuatan," jelasnya. 

Tak hanya jenang, Nasrudin juga lihai meracik madumongso. Namun tetap saja, jenang ketan hitamnya yang paling dicari.

Di tangan Nasrudin, hitamnya ketan berubah menjadi "emas" yang manis dan mengenyangkan setiap kali musim mudik tiba. (mal/yan)

Advertisement

Artikel Terkait

Petambak Kerapu dan Petani Melon di Lamongan Nikmati Manfaat Teknologi AIoT dari Komdigi

Petambak Kerapu dan Petani Melon di Lamongan Nikmati Manfaat Teknologi AIoT dari Komdigi

Penerapan teknologi digital Artificial Intelligence of Things (AIoT) dalam budidaya kerapu dan melon di Kabupaten Lamongan berjalan sukses.

Viral Video Siswa di Lamongan Bawa Ponsel Saat TKA, Kepala MA Al Muslimun Akui Kecolongan 

Viral Video Siswa di Lamongan Bawa Ponsel Saat TKA, Kepala MA Al Muslimun Akui Kecolongan 

Video diduga siswa di Lamongan menggunakan ponsel saat ujian tes kemampuan akademik (TKA) menghebohkan jagat media sosial X.

Mengenal Noya Bebita Rakhaura Hanna, Anak Pendamping Pemain Timnas PSSI dari Lamongan 

Mengenal Noya Bebita Rakhaura Hanna, Anak Pendamping Pemain Timnas PSSI dari Lamongan 

Bebi yang memiliki nama lengkap Noya Bebita Rakhaura Hanna, adalah satu - satunya anak asal Lamongan yang terpilih menjadi pendamping pemain dalam partai puncak FIFA ASEAN Cup 2026.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer