Berita Utama Event Hobi Kriminal Lamongan Lamongan Banget Nasional Pendidikan Persela Politik Sportainment Tecno-Oto Wisata & Kuliner Wisata Kuliner

Dari Koya Turun ke Keluarga, Estafet Rasa Soto Lamongan

M. Gamal Ayatollah • Jumat, 27 Maret 2026 | 09:59 WIB
KAMPUNG PEDAGANG SOTO: Gapura pintu masuk salah satu dusun di Desa Sidobinangun, Kecamatan Deket. Sebagian warga desa setempat merantau dengan berjualan soto. (Gamal A/Radar Lmg)
KAMPUNG PEDAGANG SOTO: Gapura pintu masuk salah satu dusun di Desa Sidobinangun, Kecamatan Deket. Sebagian warga desa setempat merantau dengan berjualan soto. (Gamal A/Radar Lmg)

 

radarlamongan.co - jawaposradarlamongan - Jika ada yang bertanya dari mana para penjual Soto Lamongan yang tersebar di nusantara, maka jawabannya, sebagian itu berasal dari rumah - rumah yang berjejer di Kecamatan Deket.

Di sana, soto bukan sekadar urusan perut, melainkan warisan genetis yang turun dari kakek ke cucu, melintasi zaman sejak medio 1970-an.

Salah satunya, Desa Sidobinangun. Kepala Desa Sidobinangun, Anang Faudi, mencatat setidaknya ada 43 warganya yang sukses menjadi "duta" soto di berbagai penjuru.

Baca Juga: Halal Bihalal di Lingkungan Pemkab Lamongan Jadi Momentum Pererat Silaturahmi dan Perkuat Performa Kerja

Mereka bukan hanya tersebar di seantero Lamongan. Juga Surabaya, hingga merambah luar Jawa.

Berdasarkan informasi yang diterimanya, kali pertama penjualan soto di wilayah tersebut pada tahun 1970.

Resep soto yang ada kemudian diturunkan ke generasi berikutnya. Dari kakek ke bapak, lalu jatuh ke anak-cucunya. Estafet rasa inilah yang menjaga nama besar Soto Lamongan tetap harum.

Baca Juga: Melawan Zaman dengan Resep Tradisional

"Soto Lamongan lebih cenderung dengan kuah yang kental serta adanya koya," ujarnya. 

Koya adalah bubuk gurih yang terbuat dari kerupuk udang dan bawang putih goreng dihaluskan.

Campuran koya menjadikan kuah soto lebih kental, gurih, dan creamy saat dipadukan. Namun, tidak semua warisan resep nenek moyang, mereka diterapkan seratus persen. Penggunaan telur ayam misalnya. Dulunya, telur bebek tanpa diasinkan yang dijadikan sebagai pendamping soto.

Kesuksesan para perantau soto ini tidak dinikmati sendiri. Mereka tak lupa kulit. Buktinya nyata: bangunan masjid di desa adalah sebagian hasil andil para pedagang soto. Sumbangan mereka tak main-main, puluhan hingga ratusan juta rupiah setiap kali ada pembangunan di desa.

Saat lebaran seperti ini, Sidobangun berubah wajah. Kendaraan roda empat milik para juragan soto yang pulang mudik mewarnai jalanan desa.

"Kalau di hari seperti ini lebih sepi di kampung. Nanti saat lebaran pastinya akan pulang semua," jelas Anang saat dikonfirmasi di bulan Ramadan.

Salah satu penjual soto Lamongan yang sudah terkenal itu, menurut dia, ada di Surabaya.

"Di Blauran Surabaya ada yang terkenal, penjual soto orang sini juga," imbuhnya. 

Pelanggan di Blauran itu rata - rata orang Tionghoa. Mereka setia karena rasanya konsisten. Apalagi, memasaknya menggunakan arang, membuat bumbu meresap lebih dalam dan kuahnya tetap kental.

Selain Sidobinangun, perantau Desa Rejotengah dan Rejosari juga memilih jualan soto. Bagi mereka, soto adalah napas kehidupan. Di setiap bulir koya yang mereka ulek dan setiap sendok kuah yang sajikan, ada harapan yang terus dimasak agar tetap panas, selezat cita rasa aslinya yang tak lekang oleh waktu. (mal/yan)  

Editor : Arya Nata Kesuma
#kampung pedagang #kampung soto #Desa Sidobinangun #Soto Lamongan #lamongan #kuliner lamongan #Kecamatan Deket