Berita Utama Event Hobi Kriminal Lamongan Lamongan Banget Nasional Pendidikan Persela Politik Sportainment Tecno-Oto Wisata & Kuliner Wisata Kuliner

Rawon Setan Bertahan hingga Generasi Ke-3, Saking Pedasnya, Tidak Ada Suguhan Sambal di Meja

Arya Nata Kesuma • Senin, 15 April 2024 | 17:55 WIB
GENERASI KETIGA: Muharom meneruskan usaha rawon yang dirintis nenek dan orang tuanya. (GAMAL A/RADAR.LMG)
GENERASI KETIGA: Muharom meneruskan usaha rawon yang dirintis nenek dan orang tuanya. (GAMAL A/RADAR.LMG)

LAMONGAN, Radar Lamongan - Makan rawon enaknya saat pagi atau malam. Jika malam, maka penikmat kuliner dapat mampir ke warung rawon setan yang disajikan dengan rasa pedas. 

Tempatnya tidak berada di pinggir jalan raya kabupaten. Calon pembeli masuk dulu ke jalan pemukiman di Desa Jotosanur, Kecamatan Tikung. 

Awalnya, warung itu dirintis pada 1970. Karena sudah lama berdiri, deretan mobil sering terlihat parkir di sekitar warung rawon setan. Kini, usaha makanan itu diteruskan Muharom, 46. 

Dia menuturkan, warung itu dirintis neneknya. Usaha tersebut kemudian diwariskan ke orang tuanya Muharom. Sejak 2018, Muharom mendapatkan warisan usaha itu dari orang tuanya.  

Sejak dulu sampai sekarang buka pada malam hari hingga menjelang pagi, kata bapak tiga anak tersebut. 

Sama seperti rawon pada umumnya, rawon setan juga mengandalkan kuahnya yang hitam pekat plus bumbu lainnya hingga menimbulkan rasa gurih. 

Nama rawon setan diambil dari sebutan para pelanggannya. Sebab, rasa rawonnya cukup pedas. Bahkan, tidak ada sambal di warung tersebut karena sudah pedas. Selain itu, warung hanya buka malam.

KULINER MALAM : DINAMAKAN RAWON SETAN OLEH PENGUNJUNG, KARENA KUAHNYA YANG PEDAS TANPA ADA TAMBAHAN SAMBAL DI MEJA MAKAN (GAMAL A/RADAR.LMG)
KULINER MALAM : DINAMAKAN RAWON SETAN OLEH PENGUNJUNG, KARENA KUAHNYA YANG PEDAS TANPA ADA TAMBAHAN SAMBAL DI MEJA MAKAN (GAMAL A/RADAR.LMG)
 

Muharom menuturkan, bumbu yang digunakan turun — menurun dari nenek. Hanya beda dalam bahan utama daging untuk rawon. 

Kalau nenek dulu yang digunakan bukan daging sapi, akan tetapi daging kambing, tuturnya. 

Warung berganti menyajikan daging sapi sejak dipegang orang tuanya Muharom. Semalam, Muharom menghabiskan sekitar 6 kilogram daging sapi. Pengunjung membayar Rp 19 ribu untuk seporsi rawon dengan teh hangatnya. 

Sebagian pelanggan lama dari luar kota masih setia untuk mampir ke warung ini saat melakukan perjalanan jarak jauh. Mereka ada yang berasal dari Gresik, Surabaya, Mojokerto, dan Tuban. 

Buka pukul 22.00 hingga menjelang pagi hari, jelas Muharom. (mal/yan)     

Editor : Arya Nata Kesuma
#rawon #ke 3 #generasi #lamongan #Kuliner Malam