Bagi yang merindukan masakan kupatan, tak perlu menunggu momen lebaran. Di wilayah pantura Lamongan, kupat sayur disajikan dengan sayur dengan ikan asap PE, tongkol, togek. Selain itu, ada lodeh ayam dan becek mentok.
Pemilik warungnya, Iin Nurmayanti. Bangunan warung di Desa Sumurgayam, Kecamatan Paciran, itu kecil. Bangunannya juga sederhana, dari papan kayu. Namun, sebagian pengunjungnya bermobil. Kendaraan – kendaraan roda empat sering terlihat diparkir berjejer di depan warung.
Pengunjung bisa memilih duduk di warung atau bawah gazebo yang disediakan. Juga, bisa di bawah pohon keres yang anginnya semilir.
Iin berjualan kupat sayur sejak 2016. Namun, dia harus berjuang untuk bisa menarik pembeli. Sebab, kuliner pantura identik dengan makanan seafood seperti kepiting, rajungan, cumi – cumi, dan lainnya.
Bahkan, Iin hampir putus asa karena setahun berjualan ternyata warungnya masih sepi. Dia sempat berhenti berjualan karena harus mencari modal lebih dulu. ‘’Saya berjualan ini karena melihat di wilayah pantura tak ada yang jualan ketupat,’’ jelasnya.
Tekad untuk tetap berjualan ketupat akhirnya membuahkan hasil. Warungnya didatangi pembeli. Dia membutuhkan waktu sekitar 7 jam dengan memakai bahan kayu bakar untuk membuat kupat. ‘’Pembuatan sangat sulit dibandingkan dengan membuat nasi,’’ tuturnya.
Sehari, dia menghabiskan 8 kilogram beras untuk bahan ketupat. Beras itu menghasilkan 100 - 110 biji ketupat. ‘’Yang paling ramai di sini, ayam kampung, 5 - 6 ekor ayam kampung. Untuk ikan asap, 30 potong,’’ jelasnya.
Pelanggan kuliner ini tak hanya dari wilayah pantura Lamongan. Juga ada pembeli dari Gresik, Tuban, Surabaya dan sejumlah kota di Jawa tengah. (mal/yan)
Editor : Arya Nata Kesuma