Berita Utama Event Hobi Kriminal Lamongan Lamongan Banget Nasional Pendidikan Persela Politik Sportainment Tecno-Oto Wisata & Kuliner Wisata Kuliner

Menelusuri Jejak Airlangga di Desa Pataan, Kecamatan Sambeng, Lamongan 

Ahmad Asif Alafi • Senin, 27 Oktober 2025 | 04:05 WIB
PENINGGALAN SEJARAH: Potret Candi Pataan yang dikaitkan dengan perjalanan Raja Airlangga. 
PENINGGALAN SEJARAH: Potret Candi Pataan yang dikaitkan dengan perjalanan Raja Airlangga. 

LAMONGAN, RADARLAMONGAN.CO - Perjalanan menuju Desa Pataan, Kecamatan Sambeng membutuhkan waktu perjalanan hampir satu jam. Jaraknya sekitar 35 kilometer (km) dari pusat Lamongan. Jalan berliku dan hutan jati menemani sepanjang perjalanan. Namun setibanya di sana, rasa lelah terbayar dengan keindahan peninggalan sejarah yang tersembunyi di tengah hutan Candi Pataan.

Kepala Dusun Pataan, Suraji menunjukkan lokasi candi. Mulai dari pintu yang dinamai sebagai pintu masuk candi, pengunjung akan melewati beberapa bagian situs, bangunan candi, bunker, dan ada juga tempat pensucian. Pihaknya juga menunjukan petilasan yang tak jauh dari candi yang oleh warga sekitar dipercaya sebagai makom.

Sementara itu, Kabid Kebudayaan Disparbud Lamongan, Purnomo mengatakan, situs Candi Pataan diperkirakan berasal dari abad ke-11 atau masa Raja Airlangga.

‘’Situs candi yang sangat diperhitungkan di Tahun 1000-an pada abad ke-11. Situs tersebut adalah Candi Pataan atau Situs Pataan, yang juga dikenal sebagai patakan,’’ ujarnya. ‘’Sesuai dengan nama yang tercantum dalam prasasti yang dikaitkan dengannya, merupakan sebuah kompleks kecil peninggalan purbakala yang secara administratif berada di Desa Pataan, Kecamatan Sambeng,” sambungnya.

Situs ini merupakan kompleks kecil peninggalan purbakala. Struktur yang ditemukan meliputi candi utama, bangunan mirip stupa, gapura, dan pagar keliling. Sebelum diteliti, masyarakat hanya mengenal lokasi itu sebagai gundukan tanah besar yang ditumbuhi pepohonan dan disebut go”. Baru pada 2011, melalui penelusuran Supriyo, ditemukan bahwa gundukan tersebut adalah candi kuno. Dua tahun kemudian, BPCB Jawa Timur melakukan pengecekan resmi.

TERAWAT: Salah satu prasasti yang berada di sekitar Candi Pataan.
TERAWAT: Salah satu prasasti yang berada di sekitar Candi Pataan.

Meski tak ditemukan angka tahun pasti, banyak ahli menduga situs ini berkaitan dengan Prasasti Patakan yang kini tersimpan di Museum Nasional Indonesia.

‘’Prasasti itu menyebut pemberian status sima (tanah bebas pajak) kepada Desa Pataan, karena penduduknya dipercaya merawat bangunan suci Sanghyang Patahunan,’’ tukasnya.

Jika dugaan itu benar, Candi Pataan dibangun pada masa Airlangga, Raja Medang Kahuripan, dan terus dirawat hingga Zaman Majapahit.

Catatan sejarah dari Prasasti Terep (1032 M) juga menyebutkan bahwa Airlangga pernah mundur dari keraton Wwatan Mas setelah kalah dalam perang melawan pasukan dari selatan yang dipimpin seorang ratu dari Lodoyong (kini Tulungagung).

Dia kemudian mencari perlindungan ke wilayah Pataan, yang saat itu memberi jaminan keamanan.

‘’Temuan pecahan tembikar dari Dinasti Song turut memperkuat dugaan bahwa situs ini berasal dari masa yang sama,’’ tambahnya.

Suraji menambahkan, warga percaya wilayah Pataan dulu diberi hak istimewa oleh Airlangga berupa tanah bebas pajak. ‘’Karena masyarakat sini menolong saat beliau mengungsi. Makanya disebut tanah kemerdekaan,” katanya.

Dia juga menunjukkan bekas bangunan bawah tanah yang oleh warga disebut bunker. Di atasnya terdapat bangunan seperti balai. Selanjutnya, dia mengajak ke sumber air yang dipercaya sebagai tempat bersuci raja. Hingga kini, sumber tersebut masih dimanfaatkan warga.

Di sisi lain, ada pula lokasi yang disebut makam Kebo Danu. Namun warga meyakini itu bukan makam sebenarnya, melainkan simbol atau peribahasa.

‘’Dari cerita turun-temurun, Airlangga sempat tinggal di sini sebelum dinobatkan jadi raja. Dia dirawat oleh orang Pataan,” tutur Suraji.

Warga berharap situs ini bisa terus dilestarikan. ‘’Harus kita uri-uri dan pertahankan. Supaya generasi muda ingat jasa dan sejarah nenek moyang kita,” ujarnya.

Sejarawan Lamongan, Mohammad Nafis Abd. Rouf mengungkapkan, pada periode 951–959 Saka (1029–1037 Masehi), Airlangga gencar melakukan penaklukan terhadap musuh-musuhnya di berbagai wilayah barat, timur dan selatan. 

Namun di tengah kejayaannya, sang raja sempat mengalami kekalahan dan terpaksa menyingkir dari istana Wwatan Mas ke Desa Patakan.

‘’Peristiwa pelarian itu disebut dalam Prasasti Terep Tahun 954 Saka atau 21 Oktober 1032 Masehi,’’ terang Nafis. 

Dalam prasasti itu tertulis, Sri Maharaja katalayah sangke Wwatan Mas mara i Patakan, yang berarti Raja Airlangga meninggalkan istananya menuju Patakan. Meski tidak disebutkan siapa musuhnya, para ahli menduga serangan itu dilakukan oleh Raja Wurawari.

Dari tempat pelariannya di Patakan, Airlangga kemudian mempersiapkan serangan balasan. Bersama Rakryan Kanuruhan Mpu Narottama dan Rakryan Kuningan Mpu Niti, sang raja melancarkan serangan dari arah Magehan diduga Magetan.

‘’Serangan itu berhasil menumbangkan kekuatan Wurawari. Sejak itu perusuh di Tanah Jawa pun lenyap,’’ jelas Nafis.

Dalam Prasasti Terep juga disebutkan jasa Rakai Pangkaja Dyah Tumambong, adik Airlangga yang membantu sang raja saat masa pelarian. Atas jasanya, dia diberi gelar Rake Halu Dyah Tumambong dan daerah pertapaan di Terep ditetapkan sebagai tanah sima atau daerah swatantra.

Keberadaan Desa Patakan sebagai pusat pemerintahan sementara diperkuat dengan Prasasti Sendangrejo di Kecamatan Ngimbang (dulu Sambeng), bertarikh 965 Saka (1043 Masehi). Prasasti itu berisi anugerah raja kepada penduduk Patakan yang diyakini telah membantu Airlangga saat masa pelarian.

Selain itu, ada pula Prasasti Patakan yang menyebut kewajiban rakyat setempat memelihara bangunan suci Sang Hyang Patahunan. Sayangnya, prasasti tersebut kini dalam kondisi pecah dan hanya sebagian terbaca. Artefaknya kini tersimpan di Museum Nasional dengan nomor koleksi D22.

Menurut Nafis, pemilihan Desa Patakan sebagai lokasi pelarian bukan kebetulan. Letaknya strategis di puncak perbukitan Kendeng dan dikenal aman serta loyal terhadap Airlangga. Selain itu, desa tersebut memiliki pusat peribadatan dan tokoh agama yang dekat dengan sang raja.

Dari sisi topografi dan keagamaan, Patakan menawarkan keamanan spiritual dan fisik bagi Airlangga. ‘’Jaminan keamanan ini sangatlah penting dalam situasi saat pelarian yang sangat berisiko jika saja syang raja salah dalam memilih lokasi pelarian,’’ ujarnya.

Kini, jejak situs Patakan masih bisa dijumpai, meski kondisinya memprihatinkan. Beberapa reruntuhan batu dan struktur candi masih tampak di sekitar lokasi. Sayangnya, belum ada perhatian dari pemerintah daerah maupun penelitian arkeologis yang serius terhadap situs tersebut.

‘’Padahal, jika ditelusuri lebih lanjut, kemungkinan di Patakan terdapat kompleks bangunan suci bahkan bekas istana sementara Raja Airlangga,’’ tutur Nafis. (sip/ind)

Editor : Anjar D. Pradipta
#candi pataan #lamongan