RADARLAMONGAN.CO - Setiap tanggal 10 Muharram dalam penanggalan Hijriah, masyarakat Muslim di berbagai daerah di Indonesia melestarikan sebuah tradisi kuliner yang sarat makna religius dan sosial: membuat dan membagikan Bubur Asyura atau Bubur Suro.
Tidak hanya sekadar makanan, bubur ini menjadi simbol kebersamaan, rasa syukur, serta bentuk kepedulian terhadap sesama.
Asal Usul Bubur Asyura.
Asal usul Bubur Asyura berkaitan erat dengan kisah Nabi Nuh AS. Dalam satu riwayat, setelah kapal Nabi Nuh selamat dari banjir besar dan mendarat di Gunung Judi, para penumpang kapal itu merayakan keselamatan mereka dengan memasak bubur dari sisa-sisa bahan makanan yang ada di dalam kapal: kacang-kacangan, biji-bijian, gandum, dan beragam bahan lain yang tersedia. Inilah yang diyakini menjadi cikal bakal Bubur Asyura.
Kata "Asyura" sendiri berasal dari bahasa Arab ‘Asyara yang berarti sepuluh—merujuk pada tanggal 10 Muharram. Hari ini juga dikenal sebagai hari penting dalam sejarah Islam karena banyak peristiwa besar diyakini terjadi pada hari ini, termasuk diselamatkannya Nabi Musa dari kejaran Firaun dan wafatnya cucu Rasulullah, Sayyidina Husain bin Ali, di Karbala.
Tradisi Pembuatan Bubur Asyura di Berbagai Daerah.
Bubur Asyura bukan hanya sekadar santapan, tapi bagian dari ritual tahunan yang disambut dengan semangat kebersamaan. Di banyak daerah, proses memasak dilakukan secara gotong royong di masjid, surau, atau halaman rumah. Bahan-bahan yang digunakan pun beragam, menyesuaikan dengan kekayaan lokal dan budaya setempat.
Beberapa contoh tradisi daerah:
- Sumatera Barat (Minangkabau): Bubur Asyura disebut Bubua Asyura dan biasanya berisi 40 jenis bahan sebagai simbol keberkahan. Rasa bubur ini cenderung manis.
- Kalimantan Selatan: Warga Banjar membuat Bubur Asyura dengan rasa gurih, terdiri dari beras, santan, dan sayuran. Kegiatan ini biasa disertai dengan doa bersama.
- Sulawesi Selatan (Bugis-Makassar): Bubur Asyura disebut Labu Asyura, disajikan sebagai bagian dari kegiatan keagamaan dan dibagikan ke tetangga atau anak-anak yatim.
- Pulau Jawa: Di Jawa Timur seperti Lamongan, pembuatan Bubur Asyura atau bubur suro biasa dilakukan di lingkungan masjid atau mushola, lalu dibagikan kepada warga sekitar. Biasanya bubur dibuat dengan campuran nasi, santan, sayuran, dan kadang ditambahkan daging.
Waktu Pelaksanaan.
Puncak pelaksanaan tradisi ini adalah pada 10 Muharram, tetapi di beberapa tempat persiapan sudah dilakukan sejak tanggal 9 Muharram. Sebagian masyarakat juga mengaitkan kegiatan ini dengan puasa sunah Asyura, yang dianjurkan dalam Islam karena pahalanya besar.
Selain aspek religius, pembagian Bubur Asyura menjadi sarana silaturahmi, penguatan solidaritas sosial, serta wadah berbagi rezeki dengan sesama—terutama mereka yang membutuhkan.
Simbol Kesederhanaan dan Keberkahan.
Bubur Asyura bukan hanya kuliner warisan, tapi juga pengingat bahwa dari keberagaman bahan, bisa tercipta satu cita rasa yang khas—selaras dengan nilai-nilai Islam yang menekankan persatuan dalam keberagaman. Ia menjadi lambang kesederhanaan, namun penuh keberkahan. (jar)
Editor : Anjar D. Pradipta