RADAR LAMONGAN, LAMONGAN - Anatasya Naila Frysca duduk santai di lobi SMAN 1 Lamongan. Wajahnya terlihat lelah. Dia baru saja menyelesaikan ulangan semester.
Meski lelah, Tasya tetap semangat saat diajak ke Sport Center Lamongan. Di pagar gedung yang ada di Jalan Basuki Rahmat tersebut, terdapat hasil karya mural Tasya bersama empat temannya, yakni Thania Syafar Aulia, Najla Berliana Rahman, Rheyna Qoirunnissa Brillianti, dan Evelyn Marischal Alpriandiva.
Karya itu menjadi juara pertama festival mural Wake Up 2023. Tasya sebagai ketua kelompok, membagi tugas kepada temannya. Dia yang terbiasa menggambar di kanvas dan triplek, menjadi tertantang untuk menggambar di atas media tembok. Karena berdiri hampir delapan jam, dia merasa sangat lelah untuk pengerjaan tersebut. “Kalau tema sudah ditentukan, kita memperluas ide itu sekitar satu minggu dan akhirnya bisa juara,” terang pelajar kelas XI Smasa itu.
Darah seni mengalir dari sang ayah. Namun, Tasya lebih mempelajari seni rupa secara otodidak. Saat kecil, dia sempat diikutkan les seni rupa. Namun, Tasya kemudian belajar sendiri di rumah.
Ketika TK, dia aktif mengikuti lomba mewarnai. Meski tidak pernah menang, kedua orang tuanya tetap mendukung hobinya. Saat kelas IV SD, Tasya mengikuti lomba poster di tingkat kecamatan. Dia meraih juara I.
Prestasi itu menjadi virus keberhasilan. Beberapa kali mengikuti lomba lainnya, Tasya juga juara. Ketika SMP, dia belajar kaligrafi. Berlomba di sekolah, Tasya meraih juara.
Saat SMA, dia meraih juara pada beberapa kali lomba membatik dan poster. “Kalau lomba rerata di tingkat kabupaten, provinsi, dan tentunya dari lomba bisa belajar beragam jenis seni rupa,” terang pelajar asal Kecamatan Deket itu.
Tasya lebih suka jajan alat lukis untuk mendukung hobinya. Namun, dia tidak berencana melanjutkan sekolah seni. Tasya lebih memilih kuliah kesehatan. “Kalau lulus tetap belajar seni, tapi sekolahnya kesehatan,” terangnya dengan tersenyum.
Jika hanya sketsa, maka biasanya Tasya membutuhkan 30 menit. Jika melukis dengan kanvas lengkap, maka pengerjannya bisa enam jam. Dia harus menunggu cat kering, Saat ini, koleksi lukisannya cukup banyak di rumah. Tasya ingin bisa dilibatkan dalam pameran. “Pengen sih ikut pameran terus dijual gitu karyanya, tapi kan belum semua paham seni, dan saya sendiri masih terus belajar,” tuturnya. (rka/yan)
Editor : Arya Nata Kesuma