LAMONGAN, RADARLAMONGAN.CO - Tahun ajaran baru 2025/2026 resmi dimulai hari ini, Senin (14/7). Di hari pertama masuk sekolah, pemerintah mendorong keterlibatan lebih besar dari sosok ayah dalam mendampingi anak.
Melalui Surat Edaran (SE) No. 7 Tahun 2025, Kementerian Pembangunan Manusia dan Kebudayaan bersama BKKBN menggulirkan Gerakan Ayah Mengantar Anak Sekolah sebagai bagian dari kampanye Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI).
Imbauan ini tidak sekadar ajakan biasa. Bagi aparatur sipil negara (ASN), aturan tersebut bersifat wajib.
ASN diminta hadir langsung ke sekolah untuk mengantar anak, melakukan presensi dengan kode RL di lokasi sekolah, menyertakan bukti berupa pengumuman resmi atau dokumentasi, dan kembali ke tempat kerja paling lambat pukul 12.00 untuk melapor ke atasan.
Gerakan ini disebut sebagai upaya membangun kembali ikatan emosional antara ayah dan anak yang selama ini dinilai kurang optimal.
Deputi bidang pembangunan manusia di Kantor Staf Presiden (KSP) mengatakan, kehadiran ayah di hari pertama sekolah bisa memberi rasa aman dan membangun kepercayaan diri anak dalam beradaptasi di lingkungan baru.
Data BKKBN menunjukkan hanya sekitar 37 persen anak usia 0 hingga 5 tahun yang diasuh bersama oleh kedua orang tua.
Selain itu, lebih dari 20 persen anak di Indonesia hidup tanpa kehadiran ayah secara emosional maupun fisik. Lewat kampanye ini, pemerintah ingin mengubah persepsi lama bahwa urusan anak adalah tanggung jawab ibu semata.
Ahmad Zaki, salah satu orang tua asal Lamongan, menyambut baik gerakan ini. Ia mengaku sudah membiasakan diri terlibat aktif dalam hari-hari penting anaknya sejak dini.
“Sejak anak saya masih TK sudah rutin ngantar anak ke sekolah, jadi sudah biasa,” ujarnya sambil tersenyum.
Hal senada disampaikan Rifky, salah satu ASN yang tadi pagi, Senin (14/7), juga mengantar anaknya ke sekolah. Ia menilai gerakan ini sangat positif dan memudahkan orang tua untuk terlibat.
“Kebetulan sekolah anak saya dengan tempat saya bekerja searah,” ujarnya usai mengantar anaknya yang bersekolah di wilayah perkotaan Lamongan.
Meski menuai banyak sambutan positif, gerakan ini juga menimbulkan tanggapan beragam. Beberapa pihak mengingatkan agar program ini tetap inklusif, khususnya bagi anak-anak yang tidak lagi memiliki sosok ayah karena perceraian, perpisahan, atau kematian.
Pemerintah menegaskan bahwa nilai utama dari gerakan ini adalah mendorong kehangatan dan keterlibatan keluarga, apapun kondisinya.
Dengan dimulainya tahun ajaran baru, kehadiran seorang ayah bukan hanya soal menemani anak menuju gerbang sekolah, tetapi menjadi bagian dari upaya membangun generasi yang tumbuh dengan kasih sayang, kedekatan, dan perhatian dari kedua orang tua. (jar)
Editor : Anjar D. Pradipta