Radarlamongan.co – Daftar pemilih tetap (DPT) di Pilkada Lamongan ditetapkan sebanyak 1.035.507 pemilih.
Menilik data Komisi Pemilihan Umum Kabupaten (KPUK) Lamongan, jumlah pemilih didominasi milenial dengan kelahiran antara Tahun 1981 hingga Tahun 1996 (selengkapnya lihat grafis).
Sehingga, pasangan calon (paslon) di Pilkada Lamongan dituntut cermat, guna menggaet hati pemilih terbanyak.
Seperti diketahui, terdapat dua pasangan calon (paslon) di Pilkada Lamongan. Meliputi paslon nomor urut satu, Abdul Ghofur – Firosya Shalati (Bagus), serta paslon nomor urut dua Yuhronur Efendi – Dirham Akbar Aksara (Yes-Dirham).
Pemantau Pemilu dari Koordinator Daerah Jaringan Pendidikan Pemilih untuk Rakyat (JPPR) Lamongan, M. Nadhim menuturkan, strategi paslon untuk merebut suara dari pemilih milenial adalah dengan menggunakan pendekatan anak muda.
‘’Seperti ini mereka akan melihat kreativitas tim kampanye dalam mengolah visi dan misi dari paslon, terutama visi dan misi yang berpihak pada generasi muda atau milenial,’’ ujarnya.
Menurut dia, pemilih milenial memiliki tiga keunggulan, yaitu pertama komitmen terhadap demokrasi yang tinggi, dua akses informasi yang luas, dan memasuki masa produktif.
‘’Sehingga pemilih milenial harus mampu memberikan partisipasi yang lebih bermakna lewat keterlibatan konkret di Pilkada 2024,’’ ucap Nadhim.
Dosen Ilmu Politik Unisda, Sholihin menjelaskan, untuk memperoleh suara dari generasi milenial memerlukan pemahaman mendalam, meliputi karakteristik, preferensi, serta tantangan yang dihadapi oleh kelompok ini.
Dia menilai, untuk meraih suara dari generasi milenial, diperlukan pendekatan yang autentik, berbasis isu, dan menggunakan teknologi secara maksimal.
‘’Generasi ini membutuhkan kejujuran, keterlibatan aktif, serta solusi nyata terhadap tantangan yang mereka hadapi.
Sehingga para paslon harus menyesuaikan strategi kampanye, sesuai harapan dan dinamika kehidupan mereka,’’ imbuhnya.
Ketua Komisioner KPUK Lamongan, Mahrus Ali berharap, dengan pemetaan ini akan diketahui para pemilih nanti yang turut serta dalam pemungutan suara pada 27 November 2024.
‘’Nantinya juga akan mengevaluasi masing-masing jenis pemilih dan partisipasinya,’’ tutur Mahrus, sapaan akrabnya.
Mahrus mengatakan, bahwa terkait jumlah penduduk dan jumlah pemilih cukup dinamis. Dengan masih adanya jeda waktu, berpotensi terdapat pemilih meninggal atau pindah.
Tahapan selanjutnya pasca DPT adalah daftar pemilih tambahan (DPTb). Dia mengingatkan, kepada masyarakat yang pindah pilih TPS, untuk segera mengurus DPTb.
‘’Kalau kita ketahui jumlah DPTb, maka kita sudah bisa memetakan lebih awal penyiapan logistik 2,5 persen. Sehingga tidak sampai terjadi kekurangan di setiap TPS,’’ ujarnya. (sip/ind)
Editor : Anjar D. Pradipta