LAMONGAN, RADARLAMONGAN.CO - Setiap tahun, umat Kristiani memperingati Hari Kenaikan Isa Almasih.
Peristiwa sakral ini menandai kembalinya Yesus Kristus ke surga usai 40 hari pasca-kebangkitan-Nya.
Namun, bagi umat beriman, tanggal merah di kalender ini bukan sekadar waktu istirahat dari rutinitas.
Momen ini justru menjadi ruang untuk memperkuat spiritualitas. Beragam tradisi pun digelar untuk merayakannya dengan penuh sukacita.
Ibadah tetap menjadi inti perayaan hari besar ini. Umat Kristen dan Katolik biasanya berbondong-bondong ke gereja untuk mengikuti Misa atau kebaktian khusus bertema kemenangan Kristus.
Suasana di dalam rumah ibadah dibuat lebih hidup. Dekorasi khas dipasang, disertai lagu-lagu pujian yang membangkitkan semangat syukur.
Melalui khotbah pendeta atau pastor, jemaat diajak merenungkan kembali janji penyertaan Tuhan bagi manusia, sekalipun Ia telah naik ke takhta surgawi.
Baca Juga: Bocah TK Asal Paciran Pengoleksi 16 Piala Ini Ingin Jadi Dokter
Mungkin kalian belum banyak tahu, sebagian umat memilih menjalankan puasa sebagai bagian dari tradisi Kenaikan Isa Almasih.
Puasa dipandang sebagai bentuk penyangkalan diri sekaligus refleksi batin yang mendalam.
Tujuannya terang saja, mendisiplinkan tubuh dan pikiran supaya lebih fokus pada hal-hal rohani.
Lewat berpuasa, seseorang diharapkan merasakan kedekatan yang lebih intim dengan Sang Pencipta, sekaligus menyiapkan hati menyambut datangnya Roh Kudus.
Momen ini juga dimanfaatkan untuk lebih aktif ambil bagian dalam pelayanan. Banyak jemaat tak sekadar datang dan duduk diam.
Baca Juga: Residivis Peredaran Narkotika di Lamongan Divonis Lima Tahun Penjara
Mereka bergabung menjadi anggota paduan suara, pemain musik, hingga petugas tata tertib ibadah.
Keterlibatan aktif ini menjadi wujud nyata dari iman yang hidup. Melayani sesama jemaat di hari Kenaikan merepresentasikan perintah Yesus untuk terus menjadi saksi-Nya di dunia dan menyebarkan kasih kepada siapa saja.
Nilai kasih yang diajarkan Kristus tak berhenti di dalam gedung gereja saja. Banyak komunitas gereja merayakan hari besar ini dengan cara berbagi kepada mereka yang membutuhkan lewat aksi sosial.
Baca Juga: Curi Motor di Wilayah Kecamatan Solokuro, Dua Terdakwa Asal Paciran Ini Dituntut 1,5 Tahun
Bentuknya beragam, mulai dari membagikan paket sembako, mengunjungi panti asuhan, hingga mengadakan pemeriksaan kesehatan gratis.
Kegiatan ini menjadi pengingat bahwa meskipun Yesus berada di surga, kasih-Nya harus tetap dirasakan di bumi melalui tangan-tangan manusia yang peduli.
Selain ibadah bersama, refleksi secara pribadi juga menjadi agenda penting. Di sela-sela kesibukan, umat meluangkan waktu untuk membaca ayat-ayat Alkitab dan merenungkannya dalam keheningan doa.
Momen ini berfungsi sebagai waktu evaluasi diri, sejauh mana ajaran kasih sudah diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan begitu, semangat hari Kenaikan tak hilang begitu saja setelah perayaan usai, melainkan terus tertanam dalam sikap sehari-hari.
Di Indonesia, perayaan hari besar hampir selalu ditutup dengan tradisi makan bersama.
Setelah pulang dari gereja, keluarga besar biasanya berkumpul di rumah untuk menikmati hidangan lokal khas daerah masing-masing.
Meski tak semeriah perayaan Natal, momen berkumpul ini sangat berarti untuk mempererat tali persaudaraan. Sambil menyantap makanan, mereka saling berbagi cerita hidup dan mendoakan kesejahteraan satu sama lain sebagai satu kesatuan keluarga yang harmonis.
Baca Juga: Pernah Ditangkap Polda Jatim, Pengedar Sabu Asal Mantup Ini Diamankan di Kontrakan Babat
Deretan tradisi Kenaikan Isa Almasih ini memang penuh makna dan mampu mempererat hubungan antarumat. Perayaan tahun ini diharapkan membawa kedamaian dan sukacita bagi semua yang merayakannya. (mgg/ind)
Editor : Indra Gunawan