radarlamongan.co - jawaposradarlamongan — Ada aroma khas yang menyeruak dari serambi Masjid Riyadhul Jannah setiap kali Ramadan memasuki pekan ketiga.
Bukan hanya harum wewangian surau, melainkan aroma manis gurih dari kolak ketan yang dibawa warga.
Itulah simbol "ikat" yang dijaga masyarakat Desa Meluwur, Kecamatan Glagah. Sebuah tradisi yang lebih dari sekadar urusan perut, namun tentang hati yang saling terpaut.
Ketua Takmir Masjid Riyadhul Jannah, H M Salim, menceritakan, masjid itu berdiri sejak 1970-an.
Pembangunannya merupakan hasil kebersamaan masyarakat yang menginginkan tempat ibadah yang nyaman bagi warga.
Selama Ramadan, aktivitas di Riyadhul Jannah cukup padat. Mulai pengajian menjelang berbuka, kultum setelah tarawih, tadarus Alquran, peringatan Nuzulul Quran, hingga pengajian selepas subuh.
"Anak - anak kita kasih kesempatan tadarus awal, sampai jam 9 (malam), kemudian remaja jam 9 sampai jam 10, kemudian orang tua jam 10 smapai jam 12 (dinihari)," ujarnya.
Kegiatan menghidupkan ibadah malam di sepuluh hari terakhir Ramadan pun dijalankan, khususnya pada malam ganjil.
Mulai pukul 02.00, jamaah salat tahajud, taubat, hajat, hingga salat tasbih.
"Di sepuluh terakhir Ramadan malam ganjil, seperti malam 21, 23, 25, 27, dan 29,” jelas Salim.
Saat malam ke-21, tradisi kolak ketan digelar. Warga berbondong-bondong membawa hantaran ke masjid sebelum magrib.
Mereka menggelar istigasah dan tahlil. Ada filosofi mendalam di balik mangkuk - mangkuk ketan itu.
"Tujuan, pertama mengingatkan bahwa kita mau ditinggalkan Ramadan, maka siap siap untuk lebih ditingkatkan ibadahnya. Kemudian, kolak ketan bagaimana kekerabatan ini tetap kita jaga, dalam rangka saling menguatkan dalam hal peningkatan kebaikan,” tutur Salim.
Salim berharap, baik kegiatan maupun kondisi fisik masjid yang sudah baik dapat terus dipertahankan dan ditingkatkan.
"Siapa pun nanti yang menjadi takmir, kami berharap ada peningkatan. Modal utamanya tetap kebersamaan masyarakat,” ujarnya.
Sebab, di masjid ini, doa-doa dilambungkan dan kerukunan warga dimasak hingga matang, semanis kolak ketan di malam likuran. (sip/yan)
Editor : Arya Nata KesumaSumber : Radar Lamongan