radarlamongan.co - jawaposradarlamongan – Megah berdiri di tepian jalan aspal, Masjid Miftahul Falah seolah menjadi oase keteduhan di tengah deru mesin kendaraan yang singgah di Terminal Ngimbang.
Bangunan yang mulai memahat sejarahnya sejak 2011 di Dusun Ketapas, Desa Sendangrejo, Ngimbang ini, bukan sekadar onggokan beton dan marmer. Di sana, perbedaan tidak dipandang sebagai jarak, melainkan sebagai warna yang memperkaya kanvas ibadah.
Meski lantai dua belum sepenuhnya tuntas, napas spiritualitas di dalamnya terasa begitu penuh. Di balik kemegahan arsitekturnya, tersimpan sebuah harmoni unik yang jarang ditemui: dua versi pelaksanaan salat tarawih dalam satu atap yang sama.
Ketua Takmir Masjid Miftahul Falah, Hasan Bisri, menceritakan bagaimana masjid ini menjadi rumah besar bagi umat muslim.
Ruku dan sujud tak dibatasi oleh angka-angka yang kaku. Ada imam yang memimpin dengan khidmat dalam 20 rakaat plus tiga witir, dan ada pula yang menunaikan delapan rakaat plus tiga witir.
‘’Memang kalau masalah kegiatan Ramadan di Masjid Miftahul Falah ini ya agak unik. Artinya mungkin berbeda di masjid - masjid yang lain. Di masjid sini itu ada dua versi," ucapnya.
Pihak takmir telah menggariskan sejak malam pertama Ramadan bahwa masjid ini adalah milik semesta umat Islam, bukan sekat - sekat golongan.
Jika agenda imam 20 rakaat plus tiga witir, maka jamaah yang mau ikut dipersilakan. Apabila jamaah hanya ingin mengikuti tarawih delapan rakaat, maka mereka diperbolehkan pulang setelah selesai.
Sebaliknya, jika agenda imam delapan rakaat plus tiga witir, maka jamaah yang senang menjalankan 20 rakaat, bisa nambah kekurangan rakaatnya di rumah.
‘’Terserah jenengan, nambah ten griya nggeh monggo, Semua itu tergantung keyakinan masing-masing,” tutur laki - laki 67 tahun.
‘’Alhamdulillah selama saya jadi takmir itu ya berjalan dengan baik. Mudah - mudahan yang demikian itu menjadikan keutuhan dalam beragama antaragama islam," imbuhnya.
Keberagaman ini dikelola dengan manajemen hati yang apik. Dari tujuh imam yang bertugas secara bergantian, tiga di antaranya memimpin versi delapan rakaat, sementara empat lainnya memimpin 20 rakaat. "Seluruh imam berasal dari masyarakat sekitar," ujarnya.
Di sela - sela syahdunya malam, kultum singkat selama sepuluh menit hadir membasuh dahaga ilmu usai tarawih. Tak hanya asupan ruhani, urusan jasmani pun diperhatikan dengan guyub. Setiap hari, di selasar masjid riuh oleh takjil kiriman warga, pedagang, dan pemilik toko sekitar.
“Alhamdulillah setiap hari selalu ada yang membantu. Jadi adik - adik atau jamaah yang berbuka puasa di masjid tetap bisa menikmati takjil,” kata Bisri.
Usai tarawih, sebagian jamaah melanjutkan dengan kegiatan tadarus Alquran di masjid. Takmir juga menyediakan takjil sederhana bagi mereka yang mengikuti tadarus.
Bisri menuturkan, sejak awal berdirinya masjid, para pengurus memiliki komitmen bahwa Masjid Miftahul Falah harus menjadi tempat ibadah bagi seluruh umat islam tanpa membedakan golongan.
“Masjid ini milik umat Islam. Tidak boleh ada yang mengaku milik satu golongan saja. Harapannya semoga tetap menjadi tempat yang mempersatukan umat,” tuturnya. (sip/yan)
Editor : Arya Nata Kesuma