radarlamongan.co - jawaposradarlamongan - Pemandangan di Desa Bedahan, Kecamatan Babat, ini barangkali bisa menjadi salah satu contoh kerukunan umat beragama Islam.
Di sana, berdiri kukuh Masjid Jami Al-Huda. Sebuah rumah ibadah yang tidak hanya megah secara fisik, tapi juga menjadi monumen hidup kerukunan antara warga Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah.
Masjid yang selesai dipugar total pada 1992 itu punya daya tampung hingga 800 jemaah.
Namun, bukan kapasitas bangunan yang membuatnya istimewa, melainkan "kapasitas" hati para pengelolanya yang luar biasa lapang.
Di sini, dua organisasi islam terbesar di Indonesia itu berbagi peran.
Sekretaris Masjid Al-Huda, Akhmad Marjanto, menuturkan, harmoni tersebut dijalin lewat struktur kepengurusan.
Baca Juga: Setiap Hari Masjid Agung Lamongan Siapkan Seribu Takjil untuk Buka Puasa
Jika ketua takmirnya dari kalangan NU, maka wakilnya dipastikan dari Muhammadiyah.
Sebaliknya, posisi ketua yayasan diisi orang Muhammadiyah, maka wakil dari NU.
Model "berbagi panggung" ini merambah hingga ke urusan teknis peribadatan.
Jadwal imam salat lima waktu hingga khatib Jumat diatur bergantian secara berkala.
Misalnya, jika dua hari ini posisi imam diisi sosok dari Muhammadiyah, dua hari berikutnya giliran tokoh NU yang maju ke depan.
Ritual salat tarawih pun menjadi potret toleransi yang paling kental.
Saat imam Muhammadiyah memimpin, salat dilakukan 8 rakaat. Setelah itu, imam mundur dan digantikan imam dari NU untuk menggenapi hingga 20 rakaat plus 3 rakaat witir.
Sebaliknya, jika imam NU yang memimpin sejak awal, makmum dari Muhammadiyah akan mencukupkan diri setelah 8 rakaat dan pulang lebih dulu tanpa ada rasa canggung.
‘’Tak hanya imam, melainkan khatib saat salat Jumat juga digabung NU dan Mummadiyah sampai puasa ini,’’ ucapnya
Memasuki bulan suci ini, setiap hari pengelola menyiapkan sedikitnya 300 porsi takjil untuk berbuka puasa. (mal/yan)
Editor : Arya Nata Kesuma