RADARLAMONGAN.CO, JAWAPOS.COM — Rencana pembangunan Tol Gresik–Lamongan–Tuban yang sempat dicoret kini dipastikan tetap berlanjut.
Bahkan, jalur ini akan tersambung hingga Demak, membentuk ruas tol pantura baru yang diyakini akan mengubah wajah transportasi darat di pesisir utara Jawa. Nilai proyek sepanjang ±73 km ini ditaksir mencapai Rp 23,33 triliun dan telah masuk kembali dalam RPJMN.
Kabar ini tentu membuat warga Lamongan antusias. Pertanyaan utamanya: jika tol tersebut sudah terealisasi, benarkah perjalanan ke Semarang, Jakarta, atau Bandung akan lebih cepat?
Untuk menjawabnya, mari kita simulasikan perbandingan tiga jalur: Pantura arteri, Tol Trans-Jawa (jalur tengah), dan Tol pantura baru (Gresik–Lamongan–Tuban–Demak).
1. Lamongan → Semarang (266 km)
- Pantura arteri (55 km/jam): ± 4 jam 50 menit.
- Tol Trans-Jawa (jalur tengah) (80 km/jam): ± 3 jam 20 menit.
- Tol pantura baru (kombinasi 73 km tol 90 km/jam + sisanya 80 km/jam): ± 3 jam 13 menit.
Penghematan: hampir 1,5 jam dibanding arteri, tapi hanya 7 menit lebih cepat dari tol tengah.
2. Lamongan → Jakarta (684 km)
- Pantura arteri (60 km/jam): ± 11 jam 20 menit.
- Tol Trans-Jawa (80 km/jam): ± 8 jam 33 menit.
- Tol pantura baru (85 km/jam rata-rata): ± 8 jam 3 menit.
Penghematan: 3 jam lebih dibanding arteri, tapi hanya 30 menit dibanding tol tengah.
3. Lamongan → Bandung (604 km)
- Pantura arteri (60 km/jam): ± 10 jam.
- Tol Trans-Jawa (80 km/jam): ± 7 jam 33 menit.
- Tol pantura baru (85 km/jam rata-rata): ± 7 jam 6 menit.
Penghematan: ± 3 jam dibanding arteri, tapi hanya 27 menit dibanding tol tengah.
Cepat, Tapi Tidak Drastis
Jika dibandingkan dengan jalan Pantura arteri lama, tol pantura baru jelas revolusioner. Warga Lamongan yang biasa menempuh 5 jam ke Semarang bisa memangkas perjalanan jadi hanya 3 jam-an. Begitu pula ke Jakarta atau Bandung, selisih waktunya bisa mencapai 3 jam lebih.
Namun, jika dibandingkan tol Trans-Jawa (jalur tengah) yang selama ini dipakai, selisih waktunya tipis. Lamongan–Semarang hanya lebih cepat 7 menit, ke Jakarta 30 menit, dan ke Bandung 27 menit.
Namun, kalau kemudian benar-benar tersambung Tol Pantura Baru Gresik-Lamongan-Tuban-Demak, tentu waktu tempuh akan lebih cepat lagi.
Manfaat Sesungguhnya.
Meski selisih waktu dengan jalur tengah tidak terlalu besar, nilai strategis tol pantura baru bukan sekadar menit atau jam yang dihemat, melainkan:
- Mengurangi beban Pantura arteri yang selama ini padat, penuh simpang, rawan kecelakaan, dan tidak konsisten waktu tempuhnya.
- Memberi kepastian perjalanan: 3 jam di tol lebih terjamin daripada “kadang 5 jam, kadang 7 jam” di Pantura arteri.
- Mendorong ekonomi lokal: Lamongan yang selama ini hanya dilintasi jalur arteri kini akan memiliki akses langsung ke jalur tol utama Jawa, mempercepat arus logistik pertanian, perikanan, perkembangan UMKM di pintu-pintu tol hingga industri.
Harapan dan Realita
Jangan sampai warga terjebak slogan “lebih cepat ke Semarang, Jakarta, Bandung” tanpa melihat angka. Ya, memang lebih cepat — tapi drastisnya hanya jika dibandingkan Pantura arteri lama. Sedangkan Terhadap tol Trans-Jawa yang ada sekarang, selisih waktunya tipis.
Artinya, nilai utama proyek ini bukan hanya soal berapa menit lebih cepat, melainkan soal kepastian, kenyamanan, dan multiplier effect ekonomi. Dengan hadirnya tol ini, Lamongan bisa naik kelas: dari kota lintasan menjadi kota strategis di jalur tol pantura baru. (feb)
Editor : Anjar D. Pradipta