RADARLAMONGAN.CO — Misteri kasus mutilasi yang potongan tubuhnya ditemukan di Pacet, Mojokerto, akhirnya mulai terkuak.
Alvi Maulana, 24, pemuda asal Desa Aek Paing, Kecamatan Rantau Utara, Kabupaten Labuhan Batu, Sumatera Utara, ditangkap tim Satreskrim Polres Mojokerto di rumah kosnya di Jalan Lidah Wetan Gang 1, Lakarsantri, Surabaya, Minggu (7/9) dini hari.
Dikutip dari berita JawaPos.com, Ketua RT 01 RW 01 Lidah Wetan, Heru, membenarkan penangkapan tersebut. “Benar, Alvi diringkus sekitar jam 1 pagi. Saya juga diminta menyaksikan proses penangkapan di rumah kosnya,” ungkap Heru.
Di mata warga sekitar, pelaku dikenal tertutup dan jarang bersosialisasi. “Saya nggak pernah interaksi dengan pelaku. Infonya memang driver ojek online. Biasanya beli makan di warung,” kata Heru lagi.
Hal senada diungkapkan penjaga warung dekat kos pelaku. “Sering lihat dia pakai jaket ojol warna hijau-hijau,” ujar Riya kepada JawaPos.com.
Kasus ini bermula saat Suliswanto, 35, warga Desa Pacet, Mojokerto, menemukan potongan telapak kaki manusia di semak-semak, Sabtu (7/9) sekitar pukul 10.40 WIB.
Temuan itu membuat geger warga setempat sekaligus membuka tabir kejahatan sadis yang dilakukan Alvi.
Sementara itu, fakta baru terungkap dari kasus mutilasi yang melibatkan korban berinisial TA (25), warga Desa Made, Kecamatan Lamongan. Ketua RT 003 Made Kidul, Sukirno, menyebut bahwa TA merupakan anak pertama dari pasangan suami istri Setiawan Darmadi dan Silvy Puji Ratnaningsih atau akrab dipanggil Evi.
Pasangan tersebut dikaruniai dua anak perempuan. Adik kandung TA saat ini masih duduk di bangku salah satu SMA negeri di Lamongan.
Untuk mencukupi kebutuhan hidup sekaligus membiayai pendidikan kedua anaknya, Darmadi dan Evi setiap hari berjualan sempol di depan Masjid Agung Lamongan.
“Orang tuanya memang pedagang sempol di depan Masjid Agung Lamongan. Itu jadi penghasilan utama keluarga untuk biaya sehari-hari dan pendidikan anak-anaknya,” ungkap Sukirno.
Kabar tragis itu membuat adik korban terpukul dan sulit menerima kenyataan. Paman korban, Teguh, bahkan harus menjemputnya langsung di rumah.
Saat dipanggil berkali-kali tidak ada jawaban, Teguh akhirnya melompat pagar untuk memastikan kondisi sang keponakan yang masih syok mendengar kakaknya menjadi korban mutilasi.
"Saya pamananya, mau saya jemput, saya ajak ke rumah," ujar Teguh saat ditemui didepan rumah TA. (jar)
Editor : Anjar D. Pradipta