LAMONGAN, RADARLAMONGAN.CO -Kecelakaan transportasi publik, kereta api, hingga insiden di lingkungan industri kerap meninggalkan beberapa kondisi yang memprihatinkan.
Di balik luka fisik yang tampak, terdapat ancaman yang tidak selalu terlihat pada awal kejadian, yakni cedera akibat tekanan atau crush injury.
Masyarakat sering kali menyederhanakan kondisi ini sebagai sekadar tubuh yang terjepit. Padahal, crush injury memiliki dampak yang jauh lebih kompleks.
Baca Juga: Dari Pengabdi Setan hingga Ghost in the Cell, Lima Film Joko Anwar Ini Raup Jutaan Penonton
Ketika sebuah bagian tubuh mendapat tekanan ekstrem dari benda berat, jaringan otot dan pembuluh darah di bawahnya mengalami kerusakan masif.
Bahaya sesungguhnya justru mengintai ketika beban tekanan tersebut dilepaskan.
Ketika tekanan pada tubuh dilepas, darah yang mengalir kembali ke jaringan rusak membawa racun yang memicu crush syndrome, membuat korban yang awalnya tampak sadar justru mengalami penurunan drastis beberapa jam kemudian.
Sel-sel otot yang hancur melepaskan kalium yang langsung melonjak tajam saat beban diangkat, mengganggu sistem kelistrikan jantung hingga berpotensi memicu henti jantung.
Baca Juga: Melawat ke Markas Kendal Tornado FC, Persela Lamongan Berambisi Amankan Posisi Lima Besar
Di saat bersamaan, protein mioglobin yang terlepas bersifat toksik dan dapat menyumbat filter ginjal, mengakibatkan gagal ginjal akut yang berujung pada cuci darah atau kematian.
Karena momen pelepasan beban merupakan detik paling kritis, pemberian cairan infus di lokasi kejadian sering kali dilakukan sebelum proses evakuasi benda penindih dimulai untuk mencegah dampak fatal tersebut.
Kondisi syok ini kerap menipu pandangan awam, sebab korban mungkin masih menunjukkan respons dan kesadaran yang baik di awal.
Efek Silent Killer yang muncul belakangan juga perlu diperhatikan. Racun dari jaringan otot membutuhkan waktu untuk beredar dan merusak organ tubuh lainnya.
Seorang korban bisa lolos dari proses evakuasi awal tanpa keluhan berarti, namun justru bisa jadi mengalami kolaps dalam rentang waktu 24 hingga 48 jam kemudian.
Sifatnya yang tidak langsung menunjukkan gejala inilah yang menjadikannya sangat mematikan.
Baca Juga: Lima Restoran Legendaris di Makkah dan Madinah Ini Bisa Jadi Pilihan Saat Haji dan Umrah
Pemahaman mengenai crush injury seharusnya tidak hanya menjadi perhatian tenaga medis, melainkan juga masyarakat yang berada di lokasi kejadian.
Kesadaran ini krusial terutama saat evakuasi, karena mencabut benda penindih secara sembarangan justru mempercepat racun masuk ke aliran darah.
Baca Juga: Pengedar Sabu yang Terrtangkap di Mantup Dituntut Lima Tahun Penjara
Kalian harus menyadari bahwa korban yang tampak stabil belum tentu aman, karena penanganan awal yang tepat menjadi penentu keselamatan jiwanya. (mgg/ind)
Editor : Indra Gunawan