radarlamongan.co - jawaposradarlamongan - Ancaman penyakit mulut dan kuku (PMK) di Kabupaten Lamongan relatif terkendali. Meski demikian, masuknya musim kemarau membawa tantangan baru bagi para peternak.
Penurunan kualitas pakan, keterbatasan air, hingga lonjakan suhu udara berpotensi memicu berbagai gangguan kesehatan pada hewan ternak.
Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakkeswan) Lamongan, Sofiah Nurhayati, menjelaskan, peternak sudah paham untuk pencegahan PMK.
Jika ada yang tertular, maka langsung diobati dan sembuh. “Terkendali kasusnya, hanya satu dua dan bisa disembuhkan,” jelasnya.
Meski PMK mereda, Disnakkeswan meminta peternak tidak lengah. Cuaca ekstrem selama kemarau memicu sejumlah penyakit musiman akibat cuaca panas dan penurunan nutrisi.
Menurut Sofi, selama kemarau, sejumlah gangguan penyakit berisiko menyerang Salah satunya, heat stress karena suhu panas.
Baca Juga: PMK di Lamongan Melandai, Sisa Empat Sapi Dalam Masa Perawatan
Gejalanya, sering terengah - engah, banyak minum, nafsu makan turun, lemas, dan produksi susu pada sapi turun.
Solusinya, peternak harus menyediakan air bersih, tempat berteduh, dan peningkatan sirkulasi udara.
Ancaman penyakit lainnya, gangguan pencernaan atau diare. Gejalanya, feses encer, nafsu makan turun, dehidrasi, dan lesu.
Solusinya, perubahan pakan yang dilakukan secara bertahap dan pemberian pakan berkualitas.
Selanjutnya, penyakit kembung. Biasanya, hewan terlihat gelisah, sesak napas, dan nafsu makan turun.
Kemudian, infestasi kutu, caplak dan tungau dengan gejala sapi sering menggaruk, kulitnya iritasi, anemia, dan penurunan kondisi tubuh.
Penyakit pink eye juga perlu diwaspadai. Gejalanya, mata merah berair, menyipit, dan peka terhadap cahaya.
Pencegahannya bisa dengan jaga kebersihan kandang dari debu, dan menjauhkan dari sapi bergejala. “Kalau ditemukan sapi bergejala tersebut, segera periksa ke dokter hewan,” terangnya. (rka/yan)
Editor : Arya Nata Kesuma