LAMONGAN, RADARLAMONGAN.CO – Cuaca sedikit mendung di Desa Sugihan, Kecamatan Solokuro, Sabtu pagi (16/5). Namun hal itu tidak menyurutkan aktivitas Oyima Suwandi, salah satu cat lovers di Lamongan.
Di halaman rumahnya, sebuah bangunan semi permanen berukuran 3x2 meter tampak riuh.
Bangunan itu bukan gudang, melainkan basecamp bagi puluhan kucing telantar yang berhasil diselamatkan dari jalanan.
Saat masuk ke dalam ruangan tersebut, kucing-kucing langsung mendekat. Pantauan wartawan koran ini, terdapat sekitar 10 ekor kucing domestik dan delapan anak kucing.
Sementara itu, di dalam kandang terpisah, seekor kucing ras jenis flatnose dalam proses pemulihan setelah di-rescue (diselamatkan).
Ketua Cat Lovers Pantura (CLP) Lamongan Oyima Suwandi mengatakan, hampir seratus persen kucing di sini adalah hasil rescue dari jalanan.
Yang biasa dia temui yakni komposisinya sekitar 70 persen kucing jenis domestik dan 30 persen kucing ras.
Oyima menceritakan, mayoritas kucing yang dia rawat didapatkan dari laporan masyarakat, baik melalui media sosial maupun pesan WhatsApp.
Daerah rescue rerata mencakup wilayah Lamongan, khususnya kawasan Pantura. Namun, dia juga mengambil kucing telantar hingga ke Tuban, Surabaya, dan Gresik.
‘’Biasanya 90 persen laporan itu saya datangi dan ambil sendiri. Sisanya, ada orang yang mengantarkan langsung ke sini,’’ tutur perempuan 42 tahun ini.
Meski berjiwa sosial tinggi, Oyima tetap menerapkan seleksi ketat sebelum melakukan evakuasi.
Saat menerima laporan, dia selalu menanyakan detail kondisi lingkungan sekitar kucing terlebih dahulu.
Jika kucing tersebut dirasa masih aman, Oyima biasanya akan menolak mengevakuasi ke basecamp.
Sebagai gantinya, dia atau informan lokal akan mengunjungi lokasi tersebut setiap hari untuk memberi makan di alam liar.
‘’Tapi, kalau kondisinya benar-benar butuh tindakan medis atau sakit parah, saat itu juga langsung saya ambil tanpa berpikir panjang,’’ ujarnya.
Alasan perempuan ini fokus pada jalur penyelamatan terbilang emosional. Menurut dia, saat ini mayoritas pencinta kucing hanya menyukai kucing ras, karena faktor kelucuan atau nilai komersialnya.
Namun, sangat jarang ada orang yang mau melirik dan mengulurkan tangan secara sosial untuk kucing jalanan yang sakit dan telantar.
Saat turun ke lapangan untuk mengevakuasi, persiapan Oyima layaknya petugas medis.
Cairan infus untuk membersihkan luka terbuka serta kotak P3K wajib bertengger di kendaraannya.
Sesampainya di basecamp, penanganan berlanjut. Kucing yang mengidap penyakit menular seperti scabies atau jamur akut akan langsung masuk ruang karantina dan ditaruh di kandang khusus.
Setelah dinyatakan sembuh seratus persen, barulah mereka dilepas bebas bergabung dengan kucing lainnya di dalam basecamp.
‘’Kalau kondisinya sudah pulih total, saya mempersilakan masyarakat jika ada yang mau mengadopsi. Tapi syaratnya ketat. Harus orang yang benar-benar penyayang kucing, tidak boleh sembarangan,’’ ujar dengan ramah.
Kecintaan Oyima pada kucing tumbuh sejak tahun 2000-an. Sempat bergabung dengan berbagai komunitas pada rentang 2015-2018, dia akhirnya memutuskan untuk fokus penuh pada gerakan sosial mandiri sejak tahun 2020. Di tahun itulah dia membangun basecamp di rumahnya.
‘’Sebelum tahun 2020, aksi saya cuma sebatas memberi makan di jalanan dan mengobati luka kucing yang saya temui di jalan. Baru pada 2020 terpikir membuat basecamp di rumah agar perawatannya intensif,’’ kenangnya.
Menjalankan aksi kemanusiaan untuk hewan tentu bukan tanpa kendala. Oyima mengaku sempat mendapatkan sokongan donasi dari komunitas.
Baca Juga: Persipura Jayapura Alami Nasib seperti Persela Lamongan
Namun, sejak tahun 2022 donasi tersebut mandek. Donasi hanya datang sesekali dari satu atau dua orang donatur tidak tetap.
Padahal kebutuhan operasional merawat puluhan kucing cukup besar. Dia memberikan contoh, pakan untuk 20 kucing membutuhkan Rp 60 ribu per hari. Belum operasional lain seperti pasir dan obat-obatan.
Sehingga, Oyima harus memutar otak agar operasional basecamp tetap bisa berjalan.
Dia akhirnya membuka jasa grooming (pemandian kucing). Selain itu, dia memproduksi baju kucing mandiri, untuk menopang biaya perawatan sehari-hari.
Perawatan rutin seperti pemberian obat cacing setiap tiga bulan sekali dan grooming berkala untuk kucing ras pun tetap berjalan tanpa kendala anggaran.
Aktivitas menjahit baju kucing ini bukan sekadar menyalurkan hobi. Bagi dia, setiap kayuhan mesin jahitnya adalah nafas penyambung hidup bagi puluhan kucing jalanan yang dia rescue di basecamp miliknya.
‘’Harapan saya kedepan, makin banyak produk baju dari sini yang terjual. Setiap membeli produksi dari sini yakni sama dengan menolong kucing rescue,’’ katanya.
Bagi perempuan 42 tahun ini, urusan memotong pola dan menjahit pakaian satwa bukanlah perkara rumit.
Hampir semua jenis bahan kain bisa dia manfaatkan. Berbagai model baju penunjang penampilan kucing pun dengan mudah dia buat.
‘’Semua bahan masuk, semua model kucing juga gampang buatnya. Dalam sehari, saya bisa merampungkan satu sampai dua lusin baju kucing,’’ terangnya menunjukkan produktivitasnya.
Baca Juga: Bawa Kabur Motor Teman Medsos, Warga Maduran Diamankan, Sang Suami Dinyatakan DPO
Bagi Oyima, semua terbayar lunas oleh kepuasan batin. ‘’Ada rasa bahagia melihat kucing bisa sehat dan kembali,’’ ungkapnya dengan mata berbinar.
Pihaknya meminta komitmen seumur hidup dipegang bagi yang ingin mengadopsi kucing.
‘’Jika ada kucing jalanan yang datang meminta makan dan kita tidak bisa memberinya, minimal jangan pernah memukul atau menganiayanya,’’ kata Oyima. (sip/ind)
Editor : Indra Gunawan