LAMONGAN, RADARLAMONGAN.CO - Di seberang jalan rumah M. Khotib di Dusun Dandangan, Desa Dlanggu, Kecamatan Deket, tampak deretan pot bonsai berjajar rapi. Sabtu (21/6), pria berkumis tersebut terlihat di galeri kecil miliknya, Tote’ Bonsai sambil memangkas satu per satu daun bonsai sianci dengan telaten. Di sana, Khotib juga merawat bonsai sancang.
‘’Iya mas, ini lagi pruning daun. Tujuannya biar kelihatan perantingan pohon. Mana cabang yang perlu dibesarkan, mana yang sudah cukup dan harus dipotong. Kalau daunnya masih rimbun, susah melihat bentuknya,” terang Khotib sambil terus memegang gunting kecilnya.
Bonsai sianci yang sedang dia rawat ini, bukan sembarang tanaman. Tanaman dengan nama latin malpighia emarginata itu sudah menemaninya hampir 15 tahun.
Bermula dari cangkokan kecil yang dia beli ketika baru tertarik dunia bonsai. Tanaman tersebut pernah menyabet predikat the best in class dalam sebuah kontes bonsai.
‘’Sudah pernah ikut lomba sekali, tapi untuk mengejar bentuk ideal, sempat saya grounding lagi. Biar akarnya lebih kuat dan pertumbuhan batangnya bagus,” terangnya.
Kecintaan Khotib terhadap bonsai berawal dari rasa penasaran. Dia jatuh hati pada bentuk unik pohon kecil dalam pot. Seiring berjalannya waktu, dia tak hanya merawat, tetapi juga membudidayakan sendiri bibit bonsai.
Lahan sekitar seperempat hektare di wilayah Mantup jadi tempat pembibitan berbagai jenis pohon, dari sianci, sancang, hingga ficus impor lainnya.
‘’Kalau dulu cari bahan dari hutan, sekitar Bojonegoro, Tuban, dan Jombang. Tapi kan itu enggak bisa instan tumbuh lagi. Akhirnya saya budidayakan sendiri,” ujar Khotib.
Sedangkan, tanaman sancang sebenarnya bukan asli Indonesia. Pohon ini banyak ditemukan di kawasan Asia Timur, seperti China dan Jepang. Namun kini, sudah banyak dikembangkan di Tanah Air.
Bahkan, untuk menyiasati performa pohon lokal, Khotib memadukan antara pohon wahong asli Indonesia dengan sancang, lewat metode tempel kambium. Hasilnya disebut wacang, gabungan dari wahong dan sancang.
‘’Jadi batang bawahnya wahong, tapi cabangnya ditempel sancang. Daunnya jadi lebih kecil dan rapat. Kalau wahong asli biasanya daunnya besar, kurang cocok buat kontes,” terangnya sambil menunjuk salah satu bonsai koleksinya. (sip/ind)
Tak hanya seni, merawat bonsai juga membutuhkan kedisiplinan tinggi. Khususnya untuk sancang yang dikenal rakus nutrisi. Menurut Khotib, minimal tiga bulan sekali akar sancang harus dicek dan dipotong.
‘’Kalau akarnya penuh dan enggak dipotong, pertumbuhan daun bisa berhenti. Bahkan bisa bikin ranting mati,” jelasnya.
Setelah pemotongan akar, media tanam wajib diganti supaya akar baru tumbuh sehat. Sementara sianci cenderung lebih tahan.
Penggantian media dan pemotongan akar cukup dilakukan enam bulan sekali. Namun, untuk tampil maksimal di kontes, tetap perlu kontrol rutin.
‘’Kalau mau ikut lomba, ya lima sampai enam bulan harus dicek dan ganti media. Biar performanya tetap stabil,” tambahnya.
Khotib mengingatkan, budidaya bonsai bukan sekadar menanam dan memotong. Pembudidaya wajib memahami karakter tiap pohon.
Misalnya, jenis pohon gunung yang butuh air tawar murni, berbeda dengan pohon pesisir yang justru butuh sedikit air asin.
‘’Kalau salah ngasih air, bisa pengaruh ke pohonnya. Kita harus tahu pohon itu asalnya dari mana dan cocoknya hidup di kondisi seperti apa,” pungkasnya. (sip/ind)
Editor : Anjar D. Pradipta