LAMONGAN, RADARLAMONGAN.CO - Berawal dari dorongan masyarakat, Panut Supodo akhirnya terpilih menjadi Kades Sendangaagung, Kecamatan Paciran pada Tahun 2007.
Meski awalnya memiliki keraguan apakah mampu untuk mendaftar dan juga memenuhi ekspektasi masyarakat yang beragam, tapi ia justru mendapatkan kepercayaan masyarakat hingga tiga periode.
‘’Visi saya ingin Sendangagung itu dikenal, ingin Sendangagung itu punya sesuatu yang beda dengan desa yang lain, serta potensi-potensi itu harus dikembangkan,’’ tutur Panut, sapaan akrabnya.
Pada awal menjabat cukup berat, karena minimnya anggaran di desa. Sehingga, Panut harus pintar-pintar untuk melakukan pendekatan dari legislatif melalui jalur aspirasi.
Itu sebagai upaya untuk mendapatkan program dari kabupaten, provinsi, maupun pusat.
‘’Kemudian dengan adanya dana desa (DD), kami sangat terbantu,’’ ujar kades berusia 59 tahun tersebut.
Hingga akhirnya terbentuk BUMDes Sendangagung Makmur pada Tahun 2016.
Ke depan, Pemdes Sendangagung memiliki keinginan besar untuk memasarkan lebih luas produk UMKM di Desa Sendangagung, salah satunya batik tulis.
Banyak masyarakat sekitar yang menjadi perajin batik tulis. Ada yang mengerjakan batik tulis di rumah lalu disetorkan ke pelaku UMKM, serta ada yang dikerjakan di tempat pelaku UMKM.
‘’Ke depan kami akan adakan e-commerce untuk mempermudah jaringan pemasaran batik tulis Sendangagung. Harapannya dengan adanya e-commerce ini nanti, batik tulis ini akan semakin maju dan semakin terkenal,’’ harapnya.
Selain menggelar Festival Sego Muduk dan Sendangagung Batik Carnival, hingga kini edukasi seni budaya masih ditanamkan melalui Watungkal Edupark Sendangagung.
Terdapat pilihan edukasi di sana, meliputi edukasi membatik, edukasi menyulam, edukasi ecoprint, edukasi anyaman lontar, edukasi budidaya hidroponik, pembuatan gula siwalan, dan edukasi peternakan.
Warga sekitar yang menjadi perajin kesenian diberdayakan, untuk memberikan edukasi kepada pengunjung.
Di sana juga terdapat kolam renang, gedung olahraga, dan lokasi gantangan bagi warga yang memiliki hobi burung berkicau. Bahkan wisatawan dari Jepang juga berkunjug ke sana.
‘’Watungkal Edupark Sendangagung mempunyai misi untuk memperkenalkan dan menambah wawasan kepada pengunjung tentang kekayaan budaya yang dimiliki Indonesia, khususnya Desa Sendangagung,’’ terang Panut.
Namun, terdapat perjuangan panjang untuk merealisasikan Watungkal Edupark Sendangagung. Pada awal menjabat Tahun 2007, anggaran di desa sangat terbatas.
Area Watungkal Edupark Sendangagung dulunya kolam yang digunakan mandi warga sekitar.
Namun lambat laun air tidak lagi mengalir, yang membuat area di samping Balai Desa Sendangaagung tersebut menjadi kumuh.
Ada perasaan ingin memanfaatkan tapi terbentur dengan anggaran.
‘’Sebelum ada dana desa, saya merasa sakit di hati ini. Karena begini, ada perasaan kok tidak punya kemampuan untuk mengelola potensi. Terus mau dikelola bagaimana, karena anggaran tidak punya,’’ kenang Panut.
Tahun 2022, kebetulan Desa Sendangagung menerima program Desa Berdaya dari Provinsi Jatim, yakni sebuah program untuk mendorong membranding desa dengan potensinya.
‘’Ini kemudian, saya merasa, ini sebenarnya yang saya inginkan. Hal itu menjawab rasa penasaran untuk memulai dari mana,’’ imbuhnya.
Baca Juga: Fisik Pemain Bagus, Uji Coba Terakhir untuk Pemantapan Tim Persela Lamongan
Panut mengatakan, muncul ide untuk mengembangkan wisata di bidang edukasi. Sebab, tidak ada potensi alam dan wisata buatan membutuhkan anggaran besar.
‘’Akhirnya kita identifikasi, kita kan memiliki kelebihan di SDM dan keunikan profesi,’’ ujarnya.
Panut menceritakan, saat itu berpikir akan sulit muncul jika hanya membawa nama Desa Sendangagung sebagai ikon wisata. Sebab terdapat beberapa nama desa yang mirip dengan Desa Sendangagung.
Hasil diskusi dengan anak muda setempat, muncul pengambilan nama dari Watu Ungkal yang sudah ada di desa tersebut. Namun, ia merasa penyebutannya harus marketeble, yang akhirnya disepakati Watungkal Edupark Sendangagung. (ind)
Editor : Indra Gunawan