LAMONGAN, RADARLAMONGAN.CO – MAKANAN bergizi gratis (MBG) yang disantap siswa SMAN 2 (SMADA) Lamongan didistribusikan dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Jetis, Lamongan.
Seperti diketahui, belasan siswa diduga keracunan paska menyantap MBG di sekolahnya, Rabu (17/9). Pengelola Dapur SPPG Jetis, Frangky Irawan mengungkapkan, pihaknya langsung menindaklanjuti di dapur paska insiden di SMADA Lamongan.
Selain mencari dari mana sumber makanan, juga bersurat ke pusat untuk permohonan pemberhentian sementara. Pihaknya juga sampel sudah dikirimkan ke pusat dan melakukan sterilisasi.
‘’Kalau keracunan, tentunya gak mungkin karena hanya 12 siswa, akan tetapi semua 1.200 siswa (menerima MBG, Red),’’ terangnya.
Dia mengatakan, ke depan akan dilakukan evaluasi terlebih dahulu untuk siswa, penyebabnya makanan dari luar atau yang lain. Sebab, diakuinya, proses memasak dan penyajian sudah dilakukan sesuai dengan prosedur.
‘’Kalau saya sendiri memang salah, akan dilakukan evaluasi. Kalau dari luar (penyebabnya, Red), tentunya harus sesuai prosedur, melakukan permintaan maaf,’’ ujar Frangky.
Kepala SPPG Lamongan, Agustina Nurul Hardian mengatakan, untuk kasus yang terjadi di Smada ini masih belum bisa diputuskan, karena menunggu hasil laboratorium keluar.
Meski bukan SPPG yang menangani, namun diakuinya, jika SPPG tidak berjalan sendiri-sendiri. Setiap SPPG memang ada kepala, tapi masing-masing kecamatan dan kabupaten ada koordinatornya. Sehingga SPPI dan SPPG jadi satu.
‘’Karena hasil laboratorium belum keluar sehingga kepala SPPG diminta tidak berstatemen dulu,” ujarnya.
Agustina menjelaskan, untuk hasil lab masih dalam proses. Karena semua harus ada bukti hasil.
Apalagi dari 3.560 porsi makanan yang disediakan, indikasi keracunan 13 siswa. Sehingga, pihaknya benar-benar mengevaluasi dari berbagai kemungkinan penyebabnya.
Dia berharap, semua pihak menunggu hasil keluar, karena dari program ini memang benar-benar dijaga agar semuanya berjalan dengan baik.
Bahkan pemorsian hingga menu yang disediakan setiap harinya sudah dikonsultasikan dengan ahli gizi untuk memenuhi kebutuhan harian anak.
‘’Mohon ditunggu hasilnya,” imbuhnya.
Kepala Dinas Kesehatan Lamongan, dr. Chaidir Annas menuturkan, pihaknya menerima laporan dari RS terkait dengan hasil observasi siswa yang dilarikan ke rumah sakit karena mengeluh pusing dan mual.
Kemarin (18/9), pihaknya datang untuk mencari data perkembangan kasus, melakukan pemeriksaan lingkungan sekolah, dan pengambilan sampel air. Annas mengaku tetap memantau sambil menunggu hasil laboratoriumnya keluar.
Sebab, tupoksinya sebagai pembina dan pengawas, salah satunya melakukan pengawasan tempat produksi makanan dan pembinaan untuk membiasakan pola hidup sehat.
‘’Ada atau tidak program MBG, kami bekerja sesuai tupoksi, membantu melakukan pengawasan yang harus diawasi,” ucap dr. Annas. (mal/rka/ind)
Editor : Anjar D. Pradipta