radarlamongan.co - jawaposradarlamongan - Ratna Wati merajut asa. Melalui butiran sambal kering, dia ingin rasa rindu akan kampung halaman bisa diringkas dalam kemasan praktis yang tahan lama.
Pelaku UMKM asal Lamongan ini bukanlah pendatang baru dalam belantara dunia kewirausahaan.
Namun, lewat sambal, dia seolah menemukan jodoh kreativitasnya.
Berawal dari sambal pecel yang akrab di lidah, garis nasib membawanya pada sebuah permintaan dari seberang lautan, Hongkong.
Sang pemesan memintanya memproduksi variasi sambal yang lebih beragam.
Dari sana, terpikirlah membuat sambal sate dan gado - gado. Tiga produk tersebut ternyata bisa diterima.
Setiap minggu, Ratna harus memproduksi sambal untuk memenuhi permintaan pasar. Apalagi, produknya juga bisa menembus pasar modern.
“Alhamdulillah pemasaran sudah lebih baik, jadi harus fokus dulu sebelum pengembangan varian lain,” ujarnya.
Karena produknya tanpa bahan pengawet, sambal itu bisa bertahan tujuh bulan.
Sambal yang teksturnya kering tanpa minyak, ini bisa langsung dimakan dengan cara ditaburkan maupun ditambahkan air.
Pemerintah melalui Dinas Koperasi, Perindustrian, dan Perdagangan Lamongan turut menjadi angin yang meniup layar bisnis Ratna.
Melalui kurasi bisnis, sampel sambalnya telah menyapa pasar internasional, Hongkong dan Malaysia, sejak Oktober lalu.
Sebelum memenuhi kebutuhan konsumen dalam kurasi bisnis, Ratna lebih dulu memasarkan produknya ke luar negeri seperti Singapura dan Arab Saudi.
Dukungan berupa pelatihan kemasan, sertifikasi halal, PIRT, hingga edukasi ekspor menjadikan pondasinya untuk terus melangkah.
Produknya yang telah mengantongi izin BPOM itu, bukan sekadar sebagai komoditas. Melainkan penawar bagi para perantau asal Lamongan yang rindu akan sengatan rasa tanah kelahiran di negeri orang. (rka/yan)
Editor : Arya Nata Kesuma