radarlamongan.co - jawaposradarlamongan – Data eligible 22 siswa MAN 1 Lamongan yang hilang, dipastikan tidak bisa disusulkan.
Sebab, pusat tidak membuka kesempatan bagi lembaga pendidikan yang sudah melakukan finalisasi dalam Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP).
‘’Kita sudah ke Jakarta,’’ ujar Kepala MAN 1 Lamongan, Nur Endah Mahmudah, kemarin (10/2).
Menurut dia, kepergiannya ke Jakarta untuk memastikan rapor digital madrasah anak didiknya.
Dia juga mengikuti zoom. Dari pertemuan online inilah, MAN 1 Lamongan mendapatkan penjelasan terkait finalisasi data siswa yang hanya diberikan kepada lembaga pendidikan karena sistem tidak bisa melakukan finalisasi.
Menurut dia, kejadian seperti di MAN 1 Lamongan juga dialami sejumlah sekolah lain di Indonesia.
Endah menuturkan, madrasahnya tetap bertanggung jawab untuk membimbing dan melakukan pendampingan terhadap 22 siswa tersebut.
Rencananya hari ini (11/2), MAN 1 Lamongan melakukan MoU dengan salah satu lembaga bimbingan belajar yang sudah punya nama di Lamongan.
Menurut Endah, pihak madrasah menawarkan dua alternatif kepada siswa.
Mereka datang ke lokasi bimbel atau pihak bimbel yang datang ke madrasah.
‘’Penting kami benar - benar mendampingi, kita tambahi pengetahuan,’’ katanya.
Menurut dia, sebelumnya siswa sudah mendapatkan bimbingan dari ruang guru.
Khusus 22 siswa tersebut diberikan tambahan bimbingan belajar yang berbeda dengan bimbingan sebelumnya.
‘’Paling tidak ada sharing soal,’’ imbuhnya.
Rencananya, bimbel dilakukan dengan 25 pertemuan.
Saat ini, lanjut dia, 16 siswa dari 22 siswa itu juga sudah mendaftar ke sekolah kedinasan.
Bimbel itu bagian dari usaha MAN 1 Lamongan.
Sebab, tidak ada jaminan siswa bisa diterima perguruan tinggi negeri (PTN).
Termasuk, siswa yang masuk data eligible.
Mereka belum tentu bisa keterima semua.
Dia mencontohkan tahun sebelumnya.
MAN 1 Lamongan dapat jatah 183 siswa eligible.
Hanya sebagian yang diterima.
‘’Jadi kami hanya mendampingi kebutuhan dia mendaftar, masalah keterima, itu urusan ke kampus,’’ ujarnya.
Endah menambahkan, e-rapor baru kali pertama untuk data eligble.
Dengan pengalaman tahun ini, pihaknya ke depan berencana kembali memilih cara manual.
Meskipun, konsekuensinya tidak ada tambahan kuota 5 persen.
‘’Kita kemarin pakai e-rapor salah satunya karena memberikan tambahan peluang 5 persen itu. Tapi sekarang masih ada trauma,’’ katanya. (sip/yan)
Editor : Arya Nata Kesuma