LAMONGAN, Radar Lamongan – Banjir di sejumlah pemukiman di Kecamatan Babat dan Laren harus diantisipasi dampaknya.
Bukan hanya lahan pertanian atau tambak yang terendam, juga penyakit yang bisa muncul setelah banjir.
Anggota Komisi D DPRD Lamongan, dr Sanditia Devis Saputra, mengatakan, hujan intensitas tinggi rawan adanya genangan.
Kondisi itu rawan serangan demam berdarah.
Dinas terkait diminta turun ke lapangan.
‘’Biasanya ada juru jentik nyamuk dan melakukan sosialisasi demam berdarah akibat genangan air,’’ katanya.
Menurut dia, sisa air hujan di bak atau tempat air yang tidak dibuang, dapat dipakai tempat nyamuk berkembang biak.
''Umpamanya jika terjadi kasus demam berdarah, maka radius 200 meter harus di-fogging untuk pencegahan supaya tidak ada penyebaran,’’ tuturnya.
Selain demam berdarah, warga di wilayah banjir rawan terserang diare dan gatal - gatal.
‘’Dinas kesehatan melakukan sosialisasi apa yang dilakukan karena hujan gini tikus keluar sehingga menyebabakan virus leptospirosis,’’ ujarnya.
Sementara itu, Dinas Kesehatan Lamongan mendata 24 kasus DB sejak awal 2024.
Rinciannya, 21 kasus di Januari dan tiga kasus lainnya di bulan ini.
Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Lamongan, dr Mafidhatul Laely, mengatakan, bulan ini diprediksi menjadi puncak musim penghujan.
Biasanya nyamuk aides aegepty paling suka dengan kondisi genangan.
“Meski secara angka setiap tahun ada penurunan kasus tapi DB ini tidak bisa dibiarkan dan harus dilakukan pencegahan,’’ ujarnya.
Menurut dia, pada 2022 terdata 416 kasus DB. Tahun lalu ada 193 kasus DB.
Fidha berharap temuan kasus DB tahun ini lebih sedikit dan tidak ada kasus meninggal.
Dia menuturkan, edaran kewaspadaan DB dikirimkan ke seluruh puskesmas di Lamongan.
Tujuannya, menggerakkan kader untuk pemberantasan sarang nyamuk melalui gerakan menguras dan menutup tempat penampungan air, serta mengubur barang bekas.
“Upaya PSN cukup efektif dalam membunuh jentik nyamuk, ditambah dengan fogging jika dibutuhkan dan penanaman serai yang bisa menangkal perkembangbiakan nyamuk,” terangnya.
Fidha menambahkan, pencegahan bisa dilakukan dari lingkungan sendiri.
Selama musim penghujan, habitat nyamuk ini ditemukan di genangan air. Daya tahan tubuh yang menurun berisiko terserang penyakit ini.
“Harapannya masyarakat bisa memenuhi kebutuhan gizi selama musim penghujan agar imun tidak menurun,” harapnya. (sip/rka/yan)
Editor : Arya Nata Kesuma