LAMONGAN, RADARLAMONGAN.CO - Setelah sebulan penuh menempa diri dalam ibadah di bulan suci Ramadan, tibalah di bulan Syawal. Namun, euforia Lebaran bukan berarti menyurutkan semangat ibadah.
Pasca melebur dosa dan bermaaf-maafan pada momen 1 Syawal 1447 Hijriah, masih terdapat amalan dengan pahala yang cukup besar.
Amalan tersebut adalah puasa sunnah enam hari di bulan Syawal yang sangat dianjurkan oleh Rasulullah SAW sebagai penyempurna.
Puasa enam hari di bulan Syawal begitu istimewa, karena memiliki sejumlah fadhilah. Keutamaan yang paling masyhur adalah pahala seperti berpuasa setahun penuh, seperti hadis yang diriwayatkan,
"Barangsiapa yang berpuasa Ramadan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia berpuasa seperti setahun penuh." (HR. Muslim).
Baca Juga: Varian Biore Body Wash Terbaru dan Termurah
Logikanya sederhana namun indah, yakni dalam Islam setiap kebaikan dilipatgandakan sepuluh kali lipat.
Puasa Ramadan (30 hari) dikali 10 sama dengan 300 hari. Puasa Syawal (6 hari) dikali 10 sama dengan 60 hari. Total 360 hari—genap satu tahun hijriah.
Selanjutnya, fadhilah puasa enam hari di bulan Syawal sebagai penyelamat ibadah Ramadan. Sama seperti shalat sunnah rawatib yang menambal kekurangan shalat fardu, puasa Syawal berfungsi menutupi cacat atau kekurangan selama puasa Ramadan kita.
Baca Juga: Persela Lamongan Benahi Lini Belakang, Antisipasi Bola Melayang
Selama Ramadan mungkin ada kata-kata yang kurang terjaga atau niat yang sempat goyah. Puasa Syawal hadir sebagai penyempurna.
''Allah memberikan kehormatan bagi orang-orang berpuasa di Bulan Syawal. Apa kata nabi, barangsiapa yang berpuasa satu bulan penuh di bulan Ramadan, kemudian diikuti puasa enam hari di bulan Syawal, maka seakan-akan dia berpuasa setahun penuh,'' terang Ustad Dr. Syafiq Riza Basalamah, LC, MA dalam tausiyahnya.
Selain itu, puasa enam hari Bulan Syawal juga sebagai tanda syukur dan istikamah. Mampu melaksanakan puasa Syawal adalah indikator bahwa ibadah Ramadan kita diterima (Insya Allah). Salah satu ciri amal yang diterima adalah ketika amal tersebut melahirkan ketaatan berikutnya. Ini membuktikan bahwa kita menyembah Allah bukan hanya karena sedang berada di bulan Ramadan, melainkan sepanjang waktu. (ind)
Editor : Indra Gunawan