radarlamongan.co - jawaposradarlamongan - Sejumlah nelayan melawan teriknya panas dengan membelah lautan yang terhampar di Kecamatan Paciran.
Tak hanya hasil laut yang melimpah di wilayah ini, tapi lembaga pendidikan Islamnya juga tak kalah menggeliat.
Salah satunya Pondok Pesantren (Ponpes) Karangasem Muhammadiyah Paciran.
Setelah memasuki gerbang pesantren tersebut, suasana seketika berubah. Di koridor menuju Masjid, deretan santri berpakaian koko putih bersih dengan sarung yang rapi tampak bergegas.
Pemandangan menyejukkan itu seolah meluruhkan panasnya udara Pantura.
Di balik kemegahan gedung-gedung pendidikan yang kini berdiri kokoh, ada cerita panjang tentang sebuah Langgar Duwur.
Sebuah Musala kecil yang didirikan oleh KH Idris sekitar tahun 1930. Dari titik itulah, sang cucu KH Abdurrahman Syamsuri memancangkan tonggak berdirinya Ponpes Karangasem pada 18 Oktober 1948.
Kabag Pendidikan Ponpes Karangasem Muhammadiyah Fatih Futhoni mengisahkan, pendirian pesantren ini bermula dari sebuah keprihatinan. Sang pendiri gelisah melihat kondisi pemahaman agama masyarakat kala itu.
‘’KH Abdurrahman Syamsuri ingin menghadirkan lembaga pendidikan Islam yang mengajarkan akidah, syariah, dan akhlak berdasarkan Alquran dan As-Sunnah secara murni. Beliau ingin membina generasi umat agar memiliki pemahaman agama yang benar dan kuat,’’ ungkap Fatih.
Waktu membuktikan visi tersebut. Dari santri yang awalnya bisa dihitung jari, kini Ponpes Karangasem menjelma menjadi raksasa pendidikan di Lamongan.
Unit pendidikannya berderet lengkap, mulai dari KB, TK, MIM 16 dan 20, SMPM 14, MTsM 2, KMI Karangasem, MAM 1, SMAM 6, SMKM 8, hingga Sekolah Tinggi Agama Islam (STAIM) Paciran.
‘’Secara keseluruhan jumlah peserta didik mencapai kurang lebih 2.800 siswa, dengan lebih dari seribu santri yang tinggal di asrama,’’ terangnya.
Meski modernitas menyentuh setiap lini, Karangasem enggan melepas tradisi. Program tahfidz Alquran tetap jadi menu utama, bersanding dengan kajian kitab klasik, fiqih, hingga latihan khitobah (pidato) untuk mencetak dai.
‘’Serta penanaman nilai kemandirian, kepemimpinan, dan semangat dakwah Muhammadiyah dalam kehidupan para santri,’’ ucapnya.
Memasuki bulan suci Ramadan, ritme kehidupan di pesantren meningkat tajam. Selain tadarus dan kajian Kitab Tafsir Ibnu Katsir setiap Subuh, sisi sosial juga diperkuat. Salah satu yang fenomenal adalah penyediaan 6 ribu nasi kotak untuk buka puasa bersama santri dan masyarakat.
Menariknya, ribuan nasi kotak ini lahir dari semangat gotong-royong internal.
‘’Kegiatan ini berasal dari partisipasi para guru dan pegawai. Di mana setiap guru atau pegawai menyumbang sekitar 10 nasi kotak. Jumlah pegawai kita sekitar 800 orang,’’ jelas Fatih.
Gema Ponpes Karangasem bahkan melampaui batas teritorial negara.
Melalui MTs Muhammadiyah 2, pesantren ini terlibat dalam tadarus internasional bersama tujuh negara, yakni Indonesia, Malaysia, Singapura, Kamboja, Brunei Darussalam, Thailand, dan Qatar.
Program bertajuk SBQ yang diinisiasi Sekolah Menengah Keagamaan Miri Sarawak, Malaysia ini mempertemukan para penghafal Alquran secara daring.
‘’Rencana awal peserta dari perwakilan masing-masing negara membaca secara live, tapi evaluasi tahun lalu sering ada kendala jaringan yang kurang stabil. jadi kita beralih dengan record video,’’ ucapnya.
Fatih menambahkan, Ramadan juga menjadi momentum untuk memperbanyak hafalan Alquran, serta melatih kemampuan dakwah santri melalui program Pekan Dakwah.
Melalui tradisi khas tersebut, santri diterjunkan ke tengah masyarakat untuk ceramah, Kajian Tafsir Ibnu Katsir setiap shubuh sebulan penuh selama Ramadan, dan pembinaan keagamaan di berbagai daerah.
‘’Program ini menjadi sarana praktik langsung bagi santri untuk mengaplikasikan ilmu dan kemampuan dakwah yang telah dipelajari di pondok,’’ pungkasnya. (sip/ind)
Editor : Arya Nata Kesuma