radarlamongan.co - jawaposradarlamongan - Pagi di Lamongan tidak pernah benar - benar sunyi.
Sebelum matahari sempat menyapu embun di dedaunan, sebuah ritme kehidupan telah berdetak di Jalan Mastrip, Desa Made.
Di sana, di balik kesederhanaan warung yang bersandar pada dinding waktu, aroma kencur, daun jeruk, dan kacang yang disangrai lembut membelai udara, membangunkan mimpi - mimpi yang masih terlelap.
Adalah warung pecel milik Rohma, sebuah nama yang sempat merantau ke Surabaya, dan kini kembali pulang.
Baca Juga: Warung Pecel Supatiah di Karanggeneng Merawat Resep Legendaris Sejak 1981
Perempuan berusia 49 tahun itu telah merajut takdirnya di atas piring - piring yang disajikannya sejak lama.
"Kalau saya semenjak tahun 2010 lalu Mas, sampai sekarang. Namun dulunya berjualan di Surabaya," tutur Rohma.
Di atas nasi yang mengepul hangat, guyuran bumbu pecelnya meresap dalam keheningan pagi.
Berbeda dari yang lain, bumbu kacang buatan tangannya menyimpan rahasia keberanian.
Dia membiarkan jejak pedas menari liar di ujung lidah, berpadu mesra dengan harum daun jeruk yang sengaja dilebihkan agar semerbaknya memeluk setiap penikmatnya.
Dalam setiap gilingan yang menghabiskan empat hingga lima kilogram kacang tanah itu, terselip ketelatenan seorang ibu dalam meracik bumbu.
"Pecel saya ini bumbunya sudah pedas, sehingga penikmat pedas lebih cocok," ujarnya.
Yang membuat hidangan ini hidup adalah simfoni pendampingnya. Kering tempe manis bersanding dengan mi putih serta berdampingan dengan bumbu bali. Pelengkapnya, rempeyek yang renyah.
"Kalau harga, mulai Rp 12 ribu hingga Rp 20 ribu, tergantung lauknya nanti apa. Soalnya ada ikan, telur," jelas Rohma.
Dengan sajian yang ramah di kantong, tak heran meja - meja di warungnya menjadi titik temu berbagai orang. Dari warga biasa yang mencari ketenangan fajar, para pejabat setempat yang merindukan keotentikan rasa, hingga barisan pesepeda gowes yang peluh dan lelahnya terbasuh oleh hangatnya kuah bumbu.
Bahkan, mereka yang datang dari luar kota kerap menyempatkan diri singgah, membiarkan lidah mereka disapa oleh kehangatan lokal. Di warung ini bisa menjadi salah satu tempat untuk menemukan kembali cara terbaik menyapa hari: sederhana, hangat, dan nikmat. (mal/yan)
Editor : Arya Nata Kesuma