radarlamongan.co - jawaposradarlamongan - Pijar sang surya mengubah suasana menjadi lebih terang di Jalan Andansari, Kelurahan Sukomulyo.
Di salah satu bangunan sederhana, aroma rempah mendadak memeluk pagi. Asap tipis dari wadah besar, membawa harum rempah racikan yang tak pernah berubah sejak 1991.
Di balik kepulan uap, itu jemari Atik, 44, cekatan menyiramkan kuah pekat ke atas mangkuk.
Baca Juga: Rawon Kikil Cak Ali: Jadi Primadona Penikmat Kuliner di Lamongan Sejak Tahun 1981
Dia adalah pewaris setia dari legasi cita rasa sang ibu, Tuminah. Di tengah daerah yang masyhur dengan soto ayamnya, kedai mungil ini mantap meniti jalan sunyi: merawat kelezatan rawon dan soto daging sapi.
"Kalau bumbu, tak ada yang dikurangi dari (resep) Ibu. Soalnya sudah lama ikut dan semua kini (meracik) bumbu sendiri," tutur Atik.
Setiap harinya, tak kurang dari enam kilogram daging dan jeroan olahan disiapkan.
Baca Juga: Rawon Setan Bertahan hingga Generasi Ke-3, Saking Pedasnya, Tidak Ada Suguhan Sambal di Meja
Daging sapi direbus perlahan hingga menguapkan kaldu gurih yang pekat, sebelum dipadukan dengan bumbu racikan sendiri.
"Untuk jeroan lebih cenderung dilakukan presto sehingga lebih cepat empuk," jelasnya.
Kesetiaan pada resep lintas generasi itu tak pernah mengkhianati hasil.
Mulai dari pegawai kantoran, warga sekitar, hingga pejabat rela memarkir kendaraannya di sekitar warung demi semangkuk porsi kenikmatan seharga Rp 35 ribu. (mal/yan)
Editor : Arya Nata Kesuma