radarlamongan.co - jawaposradarlamongan - Dari balik bilik sederhana di Desa Kendalkemlagi, Kecamatan Karanggeneng, aroma harum gurih serundeng kelapa sudah melayang menyapa sang surya. Di tempat inilah, Bu Supatiah merawat jejak rasa yang ditorehkan sejak 1981, menolak punah dilindas terjalnya sang waktu.
GAMAL A, Radar Lamongan
Setangkup nasi hangat di atas piring berbaur dengan bumbu kacang dengan sapuan manis, gurih, dan sengatan pedas itu senantiasa setia dipeluk helai-helai mi putih halus dan tumpukan serundeng kelapa yang renyah.
Dahulu, aroma itu kali pertama menguar di sudut Pasar Kendal, tak jauh dari tempat tinggal Supatiah. Waktu terus berputar, roda kehidupan bergulir, hingga pada 2018 perjumpaan rasa itu berpindah tepat ke kediaman pribadinya. Meski zaman terus berganti bentuk, racikan jemari Supatiah tak sedikit pun sudi melenceng dari takdir rasa yang sudah dibangun puluhan tahun sebelumnya.
Meski panggung pelayanan mulai diserahkan kepada generasi kedua, mahkota rahasia dapur tetap berada dalam genggaman sang ibu. Setiap bulir bumbu kacang masih digiling dan diracik sendiri oleh tangan senja Supatiah di rumah. "Untuk menu pecel, mulai dari mi serta serundeng disajikan jadi satu sejak dahulu ini Mas," ucap Udin, 32, salah satu anak Supatiah.
Nasi pecel itu dipadukan dengan pilihan ceker, daging ayam, atau telur. Pukul 05.30, pintu rumah sudah terbuka lebar. Tak perlu menunggu siang menjemput, sekitar pukul 09.00, wadah — wadah sudah resik tak tersisa.
"Saat buka, cenderung pagi hari. Belum sampai siang hari sudah habis terjual," imbuh Udin.
Baca Juga: Nikmatnya Nasi Pecel Lauk Dadar Otak Sapi, Lokasinya Dekat Alun – Alun Kota Lamongan
Sekitar 8 kilogram beras ludes ditanak tiap harinya. Saat fajar perayaan lebaran tiba, pecel ini menjelma jadi pelipur rindu bagi para perantau asal Surabaya hingga Mojokerto yang mudik ke tanah kelahiran.
Hanya dengan Rp 8 ribu, sepiring kenikmatan utuh lengkap dengan lauk pilihan sudah berpindah tangan. "Kebanyakan pelanggan sendiri, dari orang hendak ke sawah serta ke tambak," jelas Udin.
Di balik warung sederhananya, Bu Supatiah tidak sekadar menjual nasi pecel. Dia sedang merawat memori, merajut nostalgia, dan menyuapkan kehangatan bagi siapa saja yang rindu akan rasa yang tak pernah pudar oleh usia. (*/yan)
Editor : Arya Nata Kesuma