radarlamongan.co - jawaposradarlamongan - Di sudut Jembatan Karanggeneng, masa lalu dirawat dengan ulekan kacang Tuban yang mengalirkan rindu tentang rasa yang menolak menyerah pada roda zaman.
GAMAL A/RDR.LMG
Menyusuri pinggiran Jembatan Karanggeneng di kala pagi adalah cara terbaik menyesap aroma pagi. Di warung itu, ada kepulan uap yang bukan sekadar aroma nasi hangat. Melainkan ada jejak masa lalu yang pekat yang berkelindan di udara. Di papan namanya yang mulai menua, tertulis sebuah identitas dengan ejaan usang: Nasi Petjel.
Bagi Samsul Anam, huruf t yang menyelip di antara kata pecel bukan sekadar urusan ortografi lama. Itu adalah jangkar waktu. "Kalau nama itu, tak berikan ejakan lama, Nasi Petjel biar mengenang semua masa lalu," kata pemilik warung berusia 76 tahun tersebut.
Baca Juga: Pengedar Sabu di Wilayah Sugio Dituntut Enam Tahun Penjara Saat Sidang di Pengadilan Negeri Lamongan
Dia mengenang 1990 sebagai tahun kali pertama merintis usaha tersebut. Di usianya yang senja, dia merawat warung tersebut layaknya merawat sebuah monumen ingatan, menghidupkan masakan khas Madiun yang kini telah mengakar kuat di tanah Karanggeneng dari pagi hingga siang menjemput. Dia ditemani sang istri, Alfiah, 52.
Ada aroma mistis atau mungkin romantis, di balik gurihnya bumbu petjel racikan Samsul. Jauh sebelum warung ini berdiri di tepi jembatan, sebuah mimpi hadir menyapa tidurnya. Almarhum orang tuanya datang. Tanpa banyak kata, dalam mimpi itu, sang orang tua hanya mengulurkan segenggam kacang tanah. Sebuah isyarat gaib yang awalnya membingungkan, namun belakangan menjelma menjadi lentera hidup. Dari mimpi itulah, Samsul mulai belajar mengulek takdir. Kacang tanah pemberian dalam mimpi itu diterjemahkannya menjadi bumbu pecel yang legendaris hingga hari ini.
Samsul tak asal meracik bumbu. Baginya, kacang tanah terbaik untuk bahan bumbu adanya di bumi Tuban. Dia merasa kacang tanah dari kabupaten tetangga itu memiliki rasa lebih gurih saat dimasak untuk bahan bumbu pecel. "Bawang putih, kacang, cabai, gula merah digiling. Saat mencampur dengan air, ditaruh di cobek," jelasnya.
Baca Juga: Dinas Kesehatan Lamongan Temukan 2.000 Kasus Tuberkulosis di Semester Pertama
Sentuhan akhirnya, hanya diberi tambahan garam dan gula. Tidak ada penyedap rasa buatan maupun pengawet kimia. Saban pagi, ritual itu mampu menghabiskan sekitar 25 kilogram (kg) beras. Sementara lauk menghabiskan 10 kg daging sapi dan 4 kg telur. "Satu porsi harga Rp 23 ribu untuk (nasi pecel dan lauk) daging, tergantung lauknya," teranganya.
Pelanggan setia Nasi Petjel ini tak hanya datang dari tetangga sebelah rumah. Saat momen lebaran, kendaraan berpelat nomor luar kota mulai dari Surabaya, Mojokerto, hingga kota-kota sekitar, terlihat bergantian di tempat parkir.
Samsul dan Alfiah selalu bersiap menghadirkan untuk esok pagi, sepiring Nasi Petjel yang menolak tunduk pada gilasan zaman. (*/yan)
Editor : Arya Nata Kesuma