radarlamongan.co - jawaposradarlamongan - Setengah abad lalu, tempat di Desa Moropelang ini hanya menjadi jujugan para pencinta kopi pagi yang mencari sejumput ketan pulen. Kini, tempat tersebut juga menjelma menjadi "panggung" bagi kuah kare ayam kampung, yang penikmatnya harus berkejaran dengan waktu.
GAMAL A, Radar Lamongan
Pagi masih begitu ranum di Desa Moropelang, Kecamatan Babat. Sisa dingin peralihan musim bergeming di kulit, memaksa sebagian orang mencari kehangatan secangkir kopi atau makanan untuk mengisi perut.
Di salah satu bagian Desa Moropelang Kecamatan Babat, kepulan asap tipis dengan aroma gurih yang pekat sudah mengudara. Aroma dari warung itu menyatukan dua dunia dalam satu meja: ketan legendaris dan kare ayam kampung.
Sejak 1970, warung tersebut sudah setia menyapa fajar. Awalnya, warung hanya menjajakan ketan sebagai karib setia secangkir kopi pagi. Namun, roda zaman berputar, rasa pun berevolusi. Sang anak yang meneruskan tongkat estafet kuliner tersebut, menyandingkan ketan sebagai pengganjal perut bersama kuah kare bagi yang ingin ngopi dan sarapan.
Baca Juga: Siapkan Anticipatory Leadership Hadapi Polycrisis
Adalah Umar Hardianto, 55, bersama sang kakak, Saminten, 65, yang menjadi dirigen di balik dapur warung tanpa nama yang mencolok tersebut. Keduanya berbagi tugas dengan harmonis demi menjaga warisan leluhur. "Kalau ketan, sejak tahun 1970 lalu, sedangkan untuk kare ayam baru 25 tahun ini," ucap Umar Hardianto.
Urusan ketan, Saminten-lah pawangnya. Di tangannya, beras ketan yang saban hari menghabiskan 6 kilogram itu disulap menjadi hidangan yang pulen. Ketan yang dijualnya tidak melulu berpasangan dengan parutan kelapa. Ada sentuhan tambahan berupa sambal kacang racikan khas. Perpaduan gurih, manis, dan sedikit sengatan pedas, itu menjadi daya jual di warung ini.
Sementara Umar memilih fokus mengawal kuali kare ayam kampung. Resep kuahnya warisan orang tua saat memasak di rumah. "Kalau kare, tentunya resep yang digunakan ini dari orang tua saat masak kare, kini saya buat jualan," tutur Umar.
Baca Juga: Persela Butuh Empat Penjaga Gawang, Masih Kurang Dua Kiper Lagi...
Dalam sehari, minimal lima ekor ayam kampung mendarat di dalam kuali. Jumlah itu bisa melonjak drastis saat akhir pekan atau musim liburan tiba. Umar menjaga proses merebus ayamnya agar selalu pas. Kalau ayamnya masih muda, butuh waktu sekitar 20 menit sampai matang sempurna dan empuk.
"Semenjak dulu, konsepnya warung berada di dalam rumah. Diberikan tulisan karena banyak orang luar tak tahu," ujarnya.
Berburu kuliner di warung ini membutuhkan perjuangan dan kecepatan. Sebab, warung dibuka sejak pagi, pukul 05.00 dan sekitar pukul 09.00 sudah habis. Bahkan, tak jarang sebelum pukul 08.00, kuali sudah tak ada ayam yang tersisa. Hanya dalam waktu 3 sampai 4 jam, magis kuliner itu selesai. Magnet kuliner yang punya daya pikat.
Pelanggannya juga tidak melulu lokal Lamongan. Banyak pelaju dari kota tetangga yang sengaja menepikan kendaraan demi sarapan di sini. Bahkan, beberapa pejabat daerah kedapatan sering ketagihan makan di sini.
Dengan merogoh kocek Rp 20 ribu saja, sepiring nasi dengan potongan ayam kampung yang mantap plus guyuran kuah kare hangat, sudah siap memanjakan lidah. Sebuah harga yang relatif tidak mahal untuk menebus cita rasa legendaris yang konsisten dirawat. (*/yan)
Editor : Arya Nata Kesuma