radarlamongan.co - jawaposradarlamongan - Semangkuk soto bening di Pasar Baru Lamongan ini adalah bukti bahwa rasa tidak akan pernah kehilangan penggemar. Dipelopori oleh sang kakek puluhan tahun silam, racikan Mashudah menghadirkan kesegaran bagi pecinta kulinernya.
GAMAL A, Radar Lamongan
Di tengah kepungan kepulan asap soto berkuah kuning pekat plus taburan koya yang merajai sudut-sudut Lamongan, sebuah lapak berukuran 2 x 3 meter di terowongan Pasar Baru Lamongan, justru setia melawan arus. Tanpa koya, tanpa kuah kuning kental.
Di lapak ini, semangkuk kehangatan itu hadir dalam rupa kuah yang bening, bening yang bukan sembarang bening. Melainkan sebuah warisan rasa yang telah melintasi tiga generasi.
Lapak itu milik Mashudah. Pria berusia 68 tahun tersebut menjadi penerus benteng kuliner legendaris yang resepnya diracik kali pertama oleh sang kakek. "Kalau saya, membantu jualan orang tua sejak tahun 1985 lalu. Terus berjualan sampai sekarang," jelasnya.
Baca Juga: Dikenai Pajak Penghasilan 22 Persen, Pengusaha di Lamongan Resah dan Khawatir Timbulkan Efek Domino
Jika dihitung sejarahnya, maka sang kakek baru menurunkan resep kepada orang tuanya Mashudah pada 1981. Sementara Mashuda menerima estafet penjualan soto itu sejak 1995.
Menjaga konsistensi rasa selama puluhan tahun jelas bukan perkara gampang, apalagi di tengah gempuran harga bahan pokok yang kerap mencekik. Namun, bagi Mashudah, ada hal yang jauh lebih mahal ketimbang modal produksi: kepercayaan pelanggan.
Ketika harga ayam meroket, Mashudah bergeming. Dia menolak berpaling dari ayam kampung. Baginya, serat daging dan gurihnya kaldu ayam kampung adalah harga mati yang tak bisa ditawar, meski dalam sehari ia "hanya" menghabiskan tiga ekor ayam. "Mulai dari resep hingga ayam tak pernah mengganti (racikannya), karena memperjuangkan rasa," imbuhnya.
Baca Juga: Satpol PP Lamongan Tertibkan Gerobak PKL yang Nekat Mangkal dan "Ditelantarkan" Pemiliknya
Berbeda dengan soto Lamongan pada umumnya yang mengandalkan serbuk koya untuk memancing rasa gurih, soto racikan Mashudah ini sudah terasa dari kuah beningnya yang segar. Rahasianya ternyata ada pada minimalisnya penggunaan kunyit, sehingga kuah tidak menjadi kuning pekat. Sebagai gantinya, kekuatan rasa didapatkan dari rebusan udang atau ikan bandeng.
Mashudah tetap menggunakan bumbu seperti jahe, kunyit, kemiri, dan merica. Udang yang telah direbus matang, kemudian dihaluskan, disaring, dan hanya diambil sarinya saja untuk dijadikan dasar kaldu. Jika udang sedang langka, maka ikan bandeng rebus siap menjadi ban serep. Sementara itu, ayam kampungnya sendiri musti direbus terpisah selama sekitar satu jam untuk mendapatkan keempukan yang pas.
"Bumbu itulah, sejak dulu sampai sekarang," jelasnya.
Mashudah memiliki segmen pembeli tersendiri. Dia sehari rata — rata menghabiskan tiga ekor ayam saat berjualan pagi hingga siang. (*/yan)
Editor : Arya Nata Kesuma