radarlamongan.co - jawaposradarlamongan - TURI, Lupakan sejenak suwiran ayam kampung dan taburan koya yang renyah. Jika Anda melintas di gapura Desa Keben, Kecamatan Turi, maka bersiaplah menyambut sensasi soto yang berbeda dengan umumnya.
Di sana, di sebuah warung pinggir sawah yang dinaungi rindangnya pepohonan, aroma kuah kaldu menggoda iman para pencinta kuliner. Warung sederhana tersebut disesaki pelanggan sebelum matahari di atas kepala. Mereka datang demi satu buruan yang sama: soto kikil sapi berkuah sumsum kental.
Di Lamongan, soto memang kadung identik dengan ayam. Namun, di tangan Asmaul Husnah, 42, pakem itu mendobrak kebiasaan. Kaki dan tulang sapi yang diolah sedemikian rupa hingga menghasilkan rasa kikil dan kaldu yang gurih. Kunci utamanya, kikil dan daging yang menempel pada tulang sumsum direbus secara bersamaan.
Asmaul sejatinya adalah penerus generasi kedua. Dia melanjutkan estafet usaha yang dirintis mertuanya. Asmaul sudah tiga tahun terakhir berjualan soto kikil.
"Kalau mertua saya dulu sudah berjualan selama 20 tahun. Kini resep telah diturunkan kepada saya," tutur Asmaul sembari cekatan menuangkan kuah panas ke mangkuk pelanggan.
Begitu kaki sapi mentah datang, proses pertama adalah membakarnya di atas bara api. Tujuannya, memastikan seluruh bulu - bulu halus hilang tanpa sisa. Setelah itu, dikerok dan dicuci resik.
Baca Juga: Sensasi Pedas Lodeh Gabus Mastukha, Kuliner Lamongan di Warung Atas Tanggul Rawa Pucangro
"Untuk perebusannya, menggunakan presto untuk mempercepat dan lebih empuk daging sapi tersebut," ucapnya
Panci presto itu hanya diistirahatkan di Jumat. Durasi perebusan bergantung pada usia sapi. Jika mendapat pasokan sapi muda, maka waktu 20 menit sudah cukup membuat teksturnya kenyal - empuk. Jika sapinya sudah berumur, maka Asmaul harus rela menunggu hingga 35 menit agar urat dan otot kikil melunak sempurna. Setelah itu, barulah racikan bumbu soto cemplung berbaur menjadi satu.
"Saat ini, setiap kali hendak berjualan (buka) bisa sampai 15 kg kikil sapi," jelasnya.
Bagi yang kurang berselera dengan kuah soto kuning, Asmaul menyediakan opsi kedua: lodeh kikil. Karakter rasanya lebih menantang dan condong pedas, kontras dengan soto kikilnya yang cenderung ramah di lidah yang tak suka pedas.
Warung yang buka sejak pukul 08.00 ini biasanya sudah sepi menjelang siang. Soto kikil sering habis lebih dulu. Apalagi, bila ada rombongan dari luar kota Lamongan seperti Surabaya dan Gresik. Seporsi seharga Rp 20 ribu membuat mereka tak keberatan merogoh saku celananya. (mal/yan)
Editor : Arya Nata Kesuma