Berita Utama Event Hobi Kriminal Lamongan Lamongan Banget Nasional Pendidikan Persela Politik Sportainment Tecno-Oto Wisata & Kuliner Wisata Kuliner

Warung Kare Ayam Kampung di Desa Nguwok, Kecamatan Modo, Setia Merawat Resep Orang Tua 

M. Gamal Ayatollah • Sabtu, 9 Mei 2026 | 16:28 WIB
RESEP DARI WARISAN ORANG TUA: Sri Andayani membawa sepiring nasi kare ayam buatannya di warungnya. (Gamal A/Radar Lamongan)
RESEP DARI WARISAN ORANG TUA: Sri Andayani membawa sepiring nasi kare ayam buatannya di warungnya. (Gamal A/Radar Lamongan)

radarlamongan.co - jawaposradarlamongan - Aroma yang setia mengudara dari dapur tua sejak 1960-an, menuntun langkah para pemburu kuliner masuk ke gang sempit demi sepiring kare ayam kampung.

 

GAMAL A, Lamongan 

 

Pagi masih remang. Keriuhan di sekitar Pasar Sapi Desa Nguwok, Kecamatan Modo terdengar dari kejauhan. Sekitar satu kilometer dari pasar tersebut, di gang sempit, sebuah bangunan rumah menjadi jujugan banyak orang. 

Tak ada papan nama yang mentereng, tak ada spanduk plastik yang berteriak menawarkan menu. Namun, jejeran motor yang terparkir menjadi saksi bisu bahwa ada rasa yang sedang diburu di balik dinding bangunan itu.

Baca Juga: Tarif Bianglala Alun - Alun Lamongan Diturunkan

Langkah kaki seolah dituntun mendekati aroma gurih santan dan rempah yang menguap. Warga mengantre dengan sabar, menunggu giliran untuk mencicipi kehangatan dalam sepiring kare ayam kampung yang melegenda. Di sini, iklan adalah tutur dari mulut ke mulut yang menjelma menjadi keyakinan kolektif. Orang-orang datang bukan karena melihat tanda, melainkan karena rindu pada rasa yang menetap di ingatan.

Adalah Sri Andayani, perempuan 55 tahun, yang kini menjadi penjaga nyala api di dapur di bangunan tersebut. Dia adalah generasi kedua, meneruskan estafet kelezatan yang sudah dirintis orang tuanya sejak medio 1960-an. 

Baginya, mempertahankan rasa adalah cara menghormati masa lalu. Tidak ada yang berubah. Resep rahasia orang tuanya tetap menjadi ruh dalam setiap racikan bumbu yang pekat. Prinsip itulah yang membuat usahanya selama sepuluh tahun terakhir ini masih bertahan. Seperti ayam kampung. "Memilih ayam yang masih remaja, sehingga tekstur daging serta rasa lebih enak dibanding ayam tua," jelasnya. 

Baca Juga: Pemain Persela Nikmati Liburan, M Sadewa Menunggu Komunikasi Dengan Manajemen

Ayam kampung yang remaja membuat Sri tidak butuh waktu lama untuk melakukan perebusan. Cukup 20 menit, daging itu siap memanjakan lidah.

Di hari — hari biasa, Sri memasak sepuluh ekor ayam. Jumlah ayam yang dimasak meningkat saat hari pasaran sapi, Selasa. Sebab, saat pasaran sapi, denyut nadi Desa Nguwok berdetak lebih kencang. 

"Sejak dulu, konsepnya warung berada di dalam rumah tanpa adanya tulisan serta yang lainnya karena penjualan rasa, bukan menu," tuturnya. 

Baginya, berjualan rasa jauh lebih abadi daripada sekadar menjajakan menu dalam daftar tulisan. Itulah mengapa para pejabat hingga warga dari kota tetangga rela masuk ke gang kecil dan menyelinap ke dalam rumahnya. Dengan harga Rp 20 ribu per porsi, mereka tak hanya membeli nasi dan sepotong ayam, tapi juga sedang menyesap sepotong sejarah kuliner Lamongan yang masih terjaga keasliannya di balik senyap tanpa papan nama. (*/yan) 

Editor : Arya Nata Kesuma
#Kecamatan modo #Kare Ayam Kampung #kuliner lamongan