Berita Utama Event Hobi Kriminal Lamongan Lamongan Banget Nasional Pendidikan Persela Politik Sportainment Tecno-Oto Wisata & Kuliner Wisata Kuliner

Diungkep Sejam, Nikmatnya Kowak Hasil Pancingan

M. Gamal Ayatollah • Senin, 6 April 2026 | 04:16 WIB
HAMPIR SETENGAH ABAD: Mbah Muntiah yang menjual masakan burung kowak dan kuntul goreng sambal hijau di warungnya. (Gamal A/Radar Lamongan)
HAMPIR SETENGAH ABAD: Mbah Muntiah yang menjual masakan burung kowak dan kuntul goreng sambal hijau di warungnya. (Gamal A/Radar Lamongan)

 

radarlamongan.co - jawaposradarlamongan - Desa Balun, Kecamatan Turi, sangat dikenal dengan sebutan desa Pancasila. Di balik tenangnya desa yang dikenal dengan toleransinya itu, terselip kuliner yang sudah melegenda selama hampir setengah abad: burung kowak dan kuntul goreng sambal hijau racikan Mbah Muntiah.

Meski usianya sudah menginjak 75 tahun, tangan Mbah Muntiah masih sangat cekatan. Selama 45 tahun terakhir, dia setia mengolah burung liar tersebut menjadi hidangan yang diburu para pencinta kuliner ekstrem.

Namun, jangan harap bisa datang kapan saja dan selalu tersedia. Pasokan burung kowak sangat bergantung pada "restu" alam dan musim tambak.

Baca Juga: Sensasi Pedas Lodeh Gabus Mastukha, Kuliner Lamongan di Warung Atas Tanggul Rawa Pucangro

"Kalau saat ini, menu untuk saat ini tingal burung kowak Mas, tinggal dua porsi, belum datang lagi," ujarnya saat ditemui di warungnya.

Kelangkaan itu terjadi karena saat ini masih musim tanam ikan di tambak.

Burung kowak, yang biasanya keluar berkelompok saat senja untuk mencari mangsa, memang lebih sulit ditemui.

Mbah Muntiah memprediksi "banjir" stok baru akan terjadi pada Mei mendatang, saat transisi musim dari tambak ke padi. "Kalau peralihan musim tambak hendak tanam padi, stok pastinya berlimpah," jelasnya.

Karena minimnya stok kowak, Mbah Muntiah memberikan alternatif bagi para pengunjungnya untuk menikmati menu burung kuntul. "Untuk satu porsi burung tersebut (sama dengan burung kowak), Rp 25 ribu plus nasi yang disediakan," imbuhnya.

Sajian burung kowak goreng lengkap dengan sambalnya. (Gamal A/Radar Lamongan)
Sajian burung kowak goreng lengkap dengan sambalnya. (Gamal A/Radar Lamongan)

 

Namun, tetap saja kowak yang menjadi primadona dan ditanyakan banyak orang. Mbah Muntiah selalu berusaha menjaga kualitas rasa di warungnya. Dia hanya menerima kiriman burung hasil pancingan dengan umpan ikan kecil. Burung hasil obat potas diharamkan masuk warungnya. Sebab, rasa dagingnya bakal beda. 

"Kalau di hari — hari ini Mas, dua sampai tiga hari hanya dapat kiriman kurang lebih 20 ekor. Karena pasokan sangat minim, belum ada panen," terangnya.

Untuk menciptakan tekstur daging yang enak, Mbah Muntiah punya rahasia sendiri. Setelah dibersihkan dan dibumbui, burung kowak harus diungkep selama satu jam penuh. Proses ini memastikan daging yang dikenal alot itu berubah menjadi empuk hingga ke tulang.

Saat pesanan datang, burung baru digoreng panas-panas. Sajiannya dibarengkan sambal hijau khas dengan bumbu racikan. (mal/yan) 

Editor : Arya Nata Kesuma
#kuliner ekstrem #burung kowak #Desa Balun #kuliner lamongan