radarlamongan.co - jawaposradarlamongan - Bunyi ritmis srek-srek-srek terdengar konstan dari sebuah teras rumah di Desa Konang, Kecamatan Glagah, siang itu.
Jemari Qomariyah bergerak lincah, menggeser buah pisang di atas bilah pisau yang tertanam pada alat pemotong kayu tradisional.
Satu per satu irisan tipis jatuh dengan presisi. Namun, bagi perempuan 58 tahun itu, irisan pisang hanyalah sebuah permulaan.
Di tangan dinginnya, bahan-bahan yang selama ini dianggap remeh, mulai dari batang pisang (gedebok) yang kerap membusuk di sudut kebun, hingga pahitnya pare, berhasil "ditaklukkan". Semuanya disulap menjadi deretan camilan primadona.
"Saya mulai usaha sejak 2018," tuturnya.
Melimpahnya bahan baku di lingkungan sekitar menjadi pemicu.
Tanaman pisang mudah ditemukan di sawah tambak, maupun lahan rumah.
"Di sini banyak pohon pisang, saya juga bertani pisang di tambak dan tegal. Jadi daripada terus dijual mentah, saya olah jadi keripik pisang,” jelasnya.
Dia menggunakan pisang kepok tua berumur enam hingga tujuh bulan sebagai bahan utama.
Prosesnya memang masih klasik. Setelah dikupas dan diiris tipis, pisang digoreng hingga mencapai tingkat kerenyahan yang pas, lalu diberi varian rasa sesuai pesanan.
"Mulai dari balado, manis, asin, hingga original. Terserah menurut permintaan," imbuhnya.
Kerupuk gedebok pisang muncul dari rasa eman melihat batang pisang terbuang percuma.
"Di sini gedebok itu limbah. Daripada mubazir, saya coba buat kerupuk," katanya.
Pohon yang sudah berbuah dan dipanen, diambil bagian tengahnya. Bagian berwarna putih itu dipotong, dicuci, direbus, lalu diblender hingga halus sebelum dicampur dengan bumbu dan tepung.
Setelah dikukus dan dikeringkan, barulah digoreng menjadi kerupuk yang gurih.
Tak berhenti di situ. Qomariyah juga mengeksplorasi manfaat daun kelor. Tanaman yang dijuluki miracle tree itu diolahnya menjadi kerupuk kelor ikan dan stik kelor.
Untuk menambah cita rasa dan gizi, dia mencampurnya dengan daging ikan bandeng, mujair, atau kutuk (gabus).
"Daun kelor kan bagus untuk kesehatan, terutama bagi lansia. Jadi saya campur dengan tepung dan ikan, kemudian dikukus,” jelasnya.
Bahkan, pare yang identik dengan rasa getir pun tak luput dari kreativitasnya. Di tangannya, pare berubah wujud menjadi pastel dan stik.
Permintaan produk camilan buatan Qomariyah meningkat mulai menjelang hari raya karena untuk sajian hidangan atau oleh-oleh.
"Penjualan bisa naik dua kali lipat,” ungkapnya.
Dalam menjalankan usaha, Qomariyah mengaku masih kerap "berkelahi" dengan cuaca. Maklum, proses pengeringan kerupuknya masih mengandalkan sinar matahari sepenuhnya.
"Kalau cuaca tidak panas, kerupuk sulit kering sehingga belum bisa digoreng,” katanya.
Seluruh proses produksi juga dijalankan secara manual. Qomariyah berharap ada bantuan peralatan dari pihak pemerintah agar usahanya bisa berkembang.
"Harapannya ada bantuan alat supaya tidak manual terus. Soalnya semua masih dipotong manual,” harapnya. (sip/yan)
Editor : Arya Nata Kesuma