radarlamongan.co - jawaposradarlamongan - Dinihari itu, udara Lamongan terasa sangat dingin setelah hujan turun beberapa kali.
Di sejumlah PKL, orang - orang yang masih terjaga, cangkrukan.
Sementara sejumlah pria berbusana muslim tampak keluar dari Masjid Agung Lamongan.
Mereka baru selesai itikaf dari masjid.
Tak jauh dari masjid itu, beberapa lapak menjajakan aneka menu makanan.
Salah satunya, lapak milik Istiqomah di pinggir Jalan Basuki Rahmad Lamongan.
Akhir Ramadan itu, menjadi hari - hari terakhir baginya berjualan di malam hingga menjelang imsak.
Di luar Ramadan, Istiqomah memproduksi nasi bungkus.
Produknya mudah dikenali karena menggunakan daun pisang sebagai pembungkus dengan tempelan stiker putih.
Istiqomah menitipkan nasi bungkusnya ke sekitar 20 lapak yang tersebar mulai Made hingga Lamongan kota.
Dua di antaranya di depan TK Pembina dan timur Pasar Ikan Lamongan.
Setiap hari, dia bisa memproduksi 100 bungkus lebih.
Separo di antaranya habis di satu lapak yang berada di Made.
Nasi bungkus yang dititipkan ke lapak itu rata -rata harganya Rp 10 ribu per bungkus.
Menunya di antaranya nasi krawu, nasi babat, krengseng daging, dan rendang.
Setelah sekitar lima tahun berjualan nasi bungkus, Istiqomah bersyukur bisa membantu ekonomi keluarganya.
Selain kirim ke lapak - lapak, dia juga melayani pemesanan dari orang - orang yang hendak pergi berziarah.
Biasanya mereka memilih pesan karena merasa nasinya bisa awet hingga sore.
Penyebabnya, dibungkus dengan lapisan daun pisang yang mengurangi risiko nasi berair.
Baginya, naik turunnya penjualan menjadi bagian risiko orang berjualan.
Seperti saat Ramadan lalu. Dia hanya memasak 7 - 8 kilogram (kg) beras di awal - awal puasa.
Beberapa hari menjelang idul fitri, beras yang dimasak ditambah menjadi 10 kg.
Jumlah itu masih menurun dibandingkan Ramadan tahun lalu.
Saat itu, dalam sehari puasa bisa menghabiskan 15 kg beras.
“Tahun ini turun, sepertinya karena daya beli yang berkurang dan banyaknya yang berjualan,” ujarnya. (rka/yan)
Editor : Arya Nata Kesuma