radarlamongan.co - jawaposradarlamongan - Jamu tradisional memiliki penggemar sendiri.
Bahkan, sejumlah penjual jamu gendong yang berjualan sekarang adalah generasi ketiga.
Disebut jamu gendong karena dulu penjualnya memanggul wadah yang berisi botol cairan jamu tradisional.
Penjualnya berpakaian khas waktu itu, mengenakan jarik.
Mereka berjalan kaki untuk berjualan jamu dari bahan obat tradisional tersebut.
Kini, sebagian penjual jamu gendong tak lagi berjalan.
Ada yang menggunakan sepeda pancal, ada juga yang mengendarai motor.
Namun, orang - orang tetap memanggilnya sebagai penjual jamu gendong.
Di Lamongan, ada ''kampung'' jamu gendong.
Mereka tinggal bersebelahan dengan produksi sama, jamu tradisional.
Lokasinya di Kelurahan Sidokumpul, Kecamatan Lamongan.
Awalnya, para penjual jamu gendong itu berasal dari Solo.
Mereka mencoba peruntungan di Lamongan.
Ada yang kemudian menikah dan menetap di Kota Soto ini.
Ada juga yang mengajak sanak keluarganya untuk berjualan jamu tradisional di Lamongan.
Akhirnya, satu lingkungan diisi keturunan atau famili mereka.
Salah satu penjual jamu tradisional yang bertahan hingga saat ini, Nindi Dwi Arinta. Dia berjualan jamu sudah sepuluh tahun.
Nindi meneruskan usaha yang dilakukan pendahulunya, orang tua dan neneknya.
Cara meracik dan mengaduk bahan obat tradisional juga berdasarkan pengalaman membantu para pendahulunya.
‘’Kalau saat puasa, banyak pesanan. Hanya mengantar hingga menjelang lebaran. Setiap harinya bisa sampai 50 botol. Kalau hari biasa, hanya membawa 25 botol serta gorengan,’’ jelas ibu dua anak ini.
‘’Yang dijual mulai jamu beras kencur, kunyit asam, cabe puyang, pahitan, kunci suruh, kudu laos, gepyokan, sinom, daun sirih, dan sambiroto,’’ imbuhnya.
Hampir sebagian besar waktu dihabiskan Nindi bergelut dengan obat - obatan tradisional dalam bentuk cairan.
‘’Setelah pulang jual jamu, sore hari mencari bahan seperti daun jambu air, daun asam, daun kesimbukan serta lainnya. Meracik setelah salat subuh,’’ tuturnya.
Bahan - bahan yang sudah disiapkan, kemudian ditumbuk dengan alat.
Menurut Nindi, saat ini paling banyak dicari itu jamu gepyokan.
Jamu ini dipesan ibu - ibu menyusui. Bahannya, daun kesimbukan, daun jambu, daun asam, kunyit, jeruk nipis, dan tambahan rebusan gula.
Bahan - bahan itu dicampur dengan air mendidih.
Hari - hari biasa, Nindi berjualan di sekitar Desa Dlanggu, Kecamatan Deket.
Rutenya sama dengan yang dilakukan nenek dan orang tuanya dulu saat berjualan. (mal/yan)
Editor : Arya Nata Kesuma