radarlamongan.co - jawaposradarlamongan - Opak ladu menjadi jajanan tradisonal yang renyah dengan ada rasa sedikit manis karena kandungan gulanya.
Di rumah Ana Ma’rufah, di Dusun Prijek, Desa Prijekngablak, Kecamatan Karanggeneng, saat Ramadan lalu, sering terdengar suara plak.
Suara itu tanda dia sedang mengulur adonan yang akan dijajar untuk dijemur.
‘’Jadi mengulur tidak hanya dua kali atau tiga kali. Harus terlihat mengkilap agar opak ladu hasilnya sesuai,’’ kata Ana di teras rumahnya.
Dia memroduksi jajanan itu berdasarkan resep dari neneknya.
Sudah lima tahun ini Ana membuat jajanan yang bisa diwarna warni itu.
‘’Saya generasi ketiga,’’ ujar perempuan 32 tahun tersebut.
Opak ladu berbahan dasar beras ketan asli berkualitas dan gula.
Proses pembuatannya cukup lama dan menguras tenaga.
Beras ketan direndam sekitar delapan jam.
Sekitar pukul 00.00, rendaman itu dikukus sekitar 45 menit. Selanjutnya, proses ditumbuk.
''Ditumbuk paling lama hampir dua jam, dari ketan ungkul sampai jadi adonan lembut,’’ jelasnya.
Setelah adonan halus dan dingin, diberi gula yang sudah halus.
Jika adonan masih panas kemudian diberi gula, maka opak ladu akan keras.
‘’Jadi sak numbuke, jam setengah tiga selesai,’’ ujarnya.
Sekitar pukul 06.00, adonan yang sudah jadi itu diulur, kemudian dicetak pipih panjang untuk dikeringkan.
''Warna itu saat penguluran, motif hijau, merah, kuning,’’ imbuhnya.
Pengeringan bergantung sinar matahari.
Jika tidak ada panas matahari yang membuat adonan belum kering, maka harus dipanggang di atas kompor.
''Habis kering dilepas, dijemur lagi setengah jam, baru digunting, dianginkan,’’ jelasnya.
‘’Untuk menggoreng pakai pasir dengan campuran pecahan karang,’’ imbuhnya.
Ana mengalami peningkatan penjualan saat Ramadan dan musim kedatangan haji.
Produk jajanannya dijual di sekitar Lamongan dan Gresik.
Tenaga kerja Indonesia (TKI) yang bekerja di Malaysia dan Singapura sering memesan opak ladu buatan Ana.
‘’ Orang Jawa merantau ke sana ingin membawa oleh-oleh,’’ ujarnya. (sip/yan)
Editor : Arya Nata Kesuma