radarlamongan.co - jawaposradarlamongan - Selain nastar, lidah kucing, dan biskuit, serta kue - kue lainnya, saat lebaran mungkin sebagian orang masih menjumpai toples berisi jajanan tradisional seperti rambut nenek, opak ladu, dan japit.
Desa Kesambi, Kecamatan Pucuk, menjadi salah satu sentra produksi rambut nenek alias arum manis.
Ramadan lalu, para pemroduksi jajanan berbahan gula itu masih menerima banyak orderan.
Salah satunya, rumah produksi milik Abdul Muntholib atau Bang Toyib.
Pesanan untuk hidangan lebaran tidak hanya datang dari warga Lamongan.
Ada warga Bojonegoro, Gresik, dan kota - kota lainnya yang memesan.
Bahkan, Bang Toyib mengirim produknya ke Hongkong.
Makanan ringan ini digemari tidak hanya kalangan anak - anak.
Juga remaja hingga dewasa. Tekstur makanan yang ringan dan lembut, serta bercita rasa manis menjadikan jajanan ini disukai.
Bang Toyib mengatakan, usaha rambut nenek tersebut turun temurun.
Dia mewarisi dari orang tua. Bang Toyib kini hanya mengawasi.
Urusan produksi diserahkan ke anaknya Riski dan keluarga besarnya.
Di lingkungannya, rata - rata pemilik usaha rambut nenek masih ada ikatan keluarga.
Pemesanan rambut nenek selama puasa mengalami kenaikan.
Bahkan, ada seorang pemesan yang mencapai 1 ton.
Sementara kiriman ke Hongkong dilakukan awal Ramadan.
Rambut nenek dijual dengan harga Rp 42 ribu per kilogram (kg).
Harga itu naik dari bulan sebelumnya yang Rp 40 ribu per kg.
Kenaikan harga jajanan tersebut dikarenakan gula, tepung, dan minyak juga mengalami kenaikan harga.
Peminat rambut nenek dari berbagai kota.
Dia sudah bekerjasama dengan beberapa supplier dan supermarket untuk menjualkan produknya.
Keamanan produk dilakukan pemeriksaan oleh Dinas Kesehatan.
“Untuk bahan baku memang dipilih khusus agar kualitas rasanya juga tidak turun,” ujarnya.
Proses pembuatan rambut nenek ini dimulai dengan memasak gula dengan air hingga terlihat seperti gumpalan.
Di tempat terpisah, tepung terigu dan minyak goreng dimasak dengan suhu panas tertentu dalam kurun waktu 3 - 4 jam untuk mendapatkan hasil matang sempurna.
Setelah itu, ditiriskan ke salah satu wadah.
Tepung terigu yang sudah dimasak dengan minyak tadi, dicampur dengan gula yang dipanaskan.
Selanjutnya, dilakukan penirisan dengan metode tarik.
Bahan tadi ditarik dengan alat khusus hingga menjadi seperti rambut.
Setiap harinya selama puasa, rumah produksi Bang Toyib bisa memproduksi 40 - 50kg untuk satu meja.
Selama puasa, produksinya bisa tiga sampai lima meja. (rka/yan)
Editor : Arya Nata Kesuma