Berita Utama Event Hobi Kriminal Lamongan Lamongan Banget Nasional Pendidikan Persela Politik Sportainment Tecno-Oto Wisata & Kuliner Wisata Kuliner

Kuliner Nasi Kebuli dan Nasi Biryani Makin Diminati Saat Ramadan

Ahmad Asif Alafi • Senin, 10 Maret 2025 | 02:08 WIB

 

MENGGUGAH SELERA: Abdullah Faishal menunjukkan nasi kebuli yang ramai pemesan saat Ramadan ini.
MENGGUGAH SELERA: Abdullah Faishal menunjukkan nasi kebuli yang ramai pemesan saat Ramadan ini.

LAMONGAN, Radarlamongan.co - Dapur di sebelah rumah dengan lebar 2,5 meter x 15 meter menjadi tempat produksi beragam masakan melayu maupun timur tengah kreasi Abdullah Faishal dan Erma Silviana.

Pasangan suami istri (pasutri) asal Desa Godog, Kecamatan Laren tersebut hampir setiap hari memproduksi nasi kebuli, nasi biryani, nasi lemak, roti canai, dan roti maryam.

Meski bukan masakan lokal, tapi soal rasa sudah disesuaikan dengan lidah masyarakat sekitar. Berawal dari sang istri yang hobi memasak, akhirnya mereka memulai bisnis kuliner sejak Tahun 2017.

"Sebenarnya ini usaha istri," terang Faishal di rumah produksi Syahdu Kitchen, Sabtu (8/3).

Faishal mengungkapkan, pemilihan menu melayu dan timur tengah karena disesuaikan dengan tipologi masyarakat di daerahnya, yang mayoritas menjadi TKI dari Malaysia, Arab Saudi, dan sejumlah negara lain.

Dia menjelaskan, perbedaan nasi biryani ini rempah-rempahnya lebih condong ke India Pakistan. Sedangkan, masakan kebuli lebih condong timur tengah. Masyarakat di sekitarnya lebih menggemari nasi biryani.

"Secara visual nasi briyani warna kuning kunyit, sedangkan kebuli lebih kecoklatan," imbuhnya.

Faishal menuturkan, cara memasak nasi kebuli dan nasi biryani hampir sama seperti memasak nasi kuning.

Hanya berasnya yang membedakan, yakni menggunakan beras basmati, yang ukurannya lebih panjang. Sebelum memasak beras basmati ini, harus direndam maksimal dua sampai tiga jam agar lebih maksimal mengembangnya.

"Biar maksimal mengembangnya, kalau buru-buru nanti jadi lemas," ujarnya.

Beras basmati lalu dimasak dengan diru, yakni direbus dengan bumbu rempah. Selanjutnya dipindah dan dikukus. Di balik proses yang panjang, mampu menyajikan cita rasa masakan yang harum dan gurih.

Faishal mengaku sebagian bahan baku rempah, seperti kunyit dan bumbu kari harus dibeli dari Malaysia.

Karena bumbu tersebut sangat menentukan cita rasa nasi kebuli dan nasi briyani yang dihasilkan. Dia mengaku tidak menemukan kendala dalam mendapatkan bahan impor. Sedangkan untuk kapulaga, cengkeh, dan bunga lawang dari lokal.

"Khasnya kita kasih daun kare atau daun salam koja, kalau itu nanam sendiri. Kalau selebihnya beli," tuturnya. 

Bulan Ramadan menjadi berkah tersendiri bagi berapa pelaku bisnis. Salah satunya kuliner nasi kebuli dan nasi biryani yang peminatnya naik drastis dibanding hari biasa.

Faishal menjelaskan, penjualan meningkat hingga tiga kali lipat saat Ramadan ini. Melihat tahun lalu, permintaan semakin meningkat jelang Lebaran, yang digunakan sebagai pelengkap acara khataman.

"Karena momennya pas, kita membuat promo, kenaikan penjualan sampai seratus persen,'' ujarnya.

Faishal dan istri tidak membuat outlet, yakni pemesananya via WhatsApp atau online. Menurut dia, pesanan nasi kebuli dan nasi briyani ramai saat Ramadan, karena banyak TKI yang pulang kampung.

"Kemudian customer untuk buka puasa bersama keluarga,'' ujarnya.

Saat Ramadan ini, Faishal menyediakan menu kecil untuk personal dengan harga nasi kebuli dan nasi biryani sama.

Meliputi lauk ayam Rp 25 ribu per porsi, dan lauk iga bakar Rp 35 ribu per porsi.

Selain itu, harga menu prasmanan nasi kebuli dan nasi biryani juga sama. Lauk ayam bakar berlima Rp 200 ribu, serta lauk iga bakar Rp 300 ribu.

Faishal mengatakan, dalam berbisnis kuliner yang diperhatikan ialah rasa dan kemasan atau cara penyajian. "Selanjutnya servis ke konsumen," imbuhnya. (sip/ind)

Editor : Anjar D. Pradipta
#beras basmati #lamongan #nasi kebuli #bulan ramadan #Roti Canai #roti maryam #nasi biryani #kuliner