radarlamongan.jawapos.com, Kembangbahu - Bagi sebagian orang, lodeh tanpa pecel rasanya kurang pas.
Mbah Ranti di depan Pasar Kembangbahu ini membaca keinginan mereka.
Lodeh bisa dimakan dengan nasi atau lontong. Mbah Ranti lebih senang berjualan dengan lontong.
Rasa lodehnya juga berbeda dengan warung — warung lainnya.
Sebab, ada tambahan bumbu pecel dalam sajian.
Dengan racikan seperti itu, dagangan Mbah Ranti di depan Pasar Kembangbahu, laris.
Antrean sering terjadi saat makan lontong lodeh pecel di tempatnya Mbah Ranti.
"Injeh Mas, di sini hanya menjual lontong lodeh dengan diberikan bumbu pecel," tutur Mbah Ranti.
Nenek berusia 76 tahun ini bercerita sambil melayani pengunjung yang datang.
Menurut dia, jualan lontong lodeh pecel sudah dilakukan sejak di zaman neneknya.
Usaha itu kemudian diteruskan orang tuanya Mbah Ranti.
Setelah itu, baru dia yang menggantikan untuk berjualan.
Saat orang tuanya berjualan, kenang Mbah Ranti, bukanya pagi hari di pasar.
Dia juga sempat berjualan di pasar, sebelum akhirnya memutuskan pindah di depan pasar.
Jam bukanya juga diubah, dari pagi menjadi sore.
"Kalau saya berjualan perkiraan sejak tahun 1995. Dulu berada di dalam pasar hingga beberapa tahun, dan pindah ke depan ini," jelasnya
Mbah Ranti mengenang awal berjualan harga seporsinya Rp 2 ribu.
Kini dia menjual Rp 6 ribu satu porsi lontong lodeh sayur diberi bumbu pecel dan peyek.
Setiap hari, Mbah Ranti menghabiskan 8 kilogram beras untuk pembuatan lontong.
"Meskipun dicampur dengan bumbu pecel, rasa masih pedas, itu yang dicari orang kampung," imbuhnya.
Saat hari hitungan Jawa, pasaran Kliwon, Mbah Ranti membuat lontong lebih banyak lagi.
Hingga 12 kg beras.
Sebab, pagi harinya dia ikut berjualan di pasar. (mal/yan)
Editor : Arya Nata Kesuma