LAMONGAN, Radar Lamongan - Selain rujak, es siwalan, dan makanan olahan ikan laut, wilayah pantura juga dikenal dengan kuliner jajanan jumbreg.
Jika melewati jalan daendels di Paciran – Brondong, maka di pinggir – pinggir jalan banyak dijumpai jajan berbentuk seperti terompet berbalut lontar.
Warga setempat menyebutnya jumbreg.
Salah satu pembuatnya, Umu Nazidah, 50, warga Desa/Kecamatan Paciran.
Hari itu, dia sibuk membersihkan lontar atau daun siwalan di depan rumahnya.
Umu menjadi penerus usaha jumbreg Bu Karmini, yang tak lain adalah ibunya.
Umu sejak SD sudah terbiasa membuat jumbreg.
Dia diajari sang nenek.
‘’Sebenarnya, pertama kali yang jualan adalah nenek saya bernama Kariyani pada tahun 1960, turun ke ibu Karmini serta kini saya,’’ ucapnya.
Aroma harum darti jumbreg berasal dari lontar sebagai bungkusnya.
Sementara bahan pembuatannya dari tepung beras, santan, dan gula siwalan ditambah potongan nangka.
Perebusan bahan – bahan tersebut dilakukan sekitar 30 menit.
‘’Yang paling susah, air siwalan atau legen yang asli dari pohon untuk pemanisnya, karena harus pesan,’’ tuturnya.
Saat musim hujan, dia kesulitan mendapatkan legen.
Sehingga produksi jumbreg lebih sedikit dibandingkan musim kemarau.
Sebenarnya, legen bisa diganti gula pasir. Namun, rasa dan ketahanan jajanan tersebut berkurang.
Sehingga, dikhawatirkan pelanggan kecewa.
‘’Untuk satu kilogram bahan, menjadi kurang lebih 40 jumbreg,’’ jelasnya.
Sanpai saat ini, Umu menggunakan resep yang diajarkan neneknya.
Jajanan yang dibuatnya mampu bertahan hingga tiga hari.
Setiap hari, Umu rata – rata menghabiskan 20 - 25 kg bahan mentah untuk dijadikan jumbreg.
Takaran itu menjadi dua kali lipat saat puasa akhir hingga lebaran.
‘’Untuk pelanggan dari Jakarta, Malang, Bandung, serta merata di Jawa Timur pada saat lebaran,’’ tuturnya. (mal/yan)
Editor : Arya Nata Kesuma