LAMONGAN, Radar Lamongan - Makan pecel mungkin sudah biasa bagi sebagian orang.
Namun, makan pecel berbungkus daun jati, sedapnya terasa bakal berbeda.
Tak jauh dari kompleks pasar Kecamatan Modo, Dwi Maria, 38, menjual pecel.
Dia melanjutkan usaha orang tuanya yang mendirikan usaha itu sejak 1979.
Sejak di bangku SMP, Dwi sudah ikut membantu orang tuanya berjualan.
Dua tahun terakhir, karena usia dan keterbasan fisik, orang tuanya menyerahkan usaha tersebut kepada Dwi.
Meski demikian, orang tuanya tidak melepas total.
Racikan bumbu pecel tetap orang tuanya yang menakar.
‘’Perasaan saya, kalau bumbu sama dengan pecel yang lainnya,’’ tutur Dwi.
Dia tidak ingin pelanggan lama pergi setelah orang tuanya tak berjualan.
Karena itu, ciri khas penyajian di warung tetap dipertahankan.
Pecel dengan bungkus daun jati. Selain sebagai ciri khas, daun jati dipercaya sebagian orang bisa menambah kesedapan makanan.
‘’Tetep gak saya hilangkan Mas, karena sudah menjadikan ciri khas,’’ tutur Dwi.
Jika rata – rata penjual nasi pecel memakai baskom untuk tempat mengaduk bumbu pecel, maka Dwi memilih menggunakan cobek.
Sehingga tampak seperti uleg sambal.
‘’Sejak dulu ya gini Mas. Kalau mengaduk di tempat cobekan agar berbeda dengan yang lain. Sejak Ibuk jualan ya gini,’’ tutur ibu tiga anak ini.
Setiap hari, Dwi memasak nasi hingga 30 kilogram (kg) beras.
Dia membeli daging ayam sekitar 6 kg setiap hari, kentang untuk begedel 3 kg, dan 3 kg telur untuk dadar.
Sementara untuk peyek, Dwi mendapatkan kiriman dari orang lain.
‘’Harga mulai Rp 8 ribu hingga Rp 18 ribu satu porsi, tinggal lauknya apa. Pelanggan mulai dari Modo, Lamongan, Mojokerto, Jombang hingga Surabaya,’’ ujarnya. (mal/yan)
Editor : Arya Nata Kesuma