LAMONGAN, Radar Lamongan - Sudah 17 tahun
Sulastri, 52, berjualan nasi sambal belut. Selain rasa,
pengunjung datang karena lokasinya yang bernuansa
alam pedesaan.
Ada beberapa gazebo yang berdiri di dekat pohon
jati. Warung belut cumpleng milik Sulastri di Desa
Bronjong, Kecamatan Bluluk, berada di depan
gazebo tersebut. Warungnya sederhana. Menu
utamanya di kuliner bluluk ini, nasi jagung sambal
belut. Menu lainnya, sambal wader, mujaer, dan
udang goreng.
Pengunjung yang datang ke warung ini rata – rata
bermobil. Mereka datang untuk mampir karena
perjalanannya searah. Ada juga yang sengaja datang
karena kangen dengan rasa sambal belutnya. Jika
antrean lama, maka pengunjung tidak akan resah.
Sebab, suasananya pedesaan. Apalagi, anginnya
sepoi – sepoi.
Sulastri sudah berjualan sejak 2006. Warungnya
dikenal dengan sebutan belut cumpleng karena
lokasinya di dusun cumpleng. Sebagian orang juga
menyebut warungnya berjualan rujak belut. Nanti,
dia menyediakan bumbu rujak. Hanya sambal
mentah, racikan bumbu tanpa digoreng.
Sambal itu disuguhkan dengan lalapan terong
gelatik. Namun, terongnya tidak dalam bentuk utuh.
Namun, potongan kecil – kecil yang diulek dicobek
lebih dulu. ‘’Untuk ikannya berbagai pilihan, belut,
udang, mujaer hingga wader,’’ jelasnya.
Terong ini menjadi tambahan sensasi makan belut di
wilayah pedesaan. ‘’Untuk setiap hari, belut
membutuhkan 5 kilogram, serta nasi jagung 6
kilogram dan juga nasi putih,’’ tuturnya.
Satu porsi makan nasi dan sambal belut harganya Rp
23 ribu. Karena sudah lama berjualan, Sulastri
memiliki banyak pelanggan. Bukan hanya dari
Lamongan. Juga, warga Mojokerto, Jombang,
Bojonegoro, Gresik hingga Surabaya. (mal/yan)