radarlamongan.co – jawaposradarlamongan – Jagat media sosial mendadak mengalami guncangan. Isu mistis seputar ritual pesugihan di Gunung Kawi, Jawa Timur, kembali mencuat dan menjadi buah bibir netizen setelah Marcel Radhival atau Pesulap Merah membuat konten video di gunung yang memiliki ketinggian 2.551 mdpl tersebut.
Stereotipe lawas tentang tempat berburu kekayaan instan, tumbal, dan perjanjian gaib yang telanjur melekat di benak awam kini kembali dikulik. Netizen pun dibuat penasaran: Apa yang sebenarnya terjadi di balik rimbunnya mitos pesugihan di lereng gunung yang lokasinya di Kecamatan Wonosari, Kabupaten Malang itu?
Misteri Jumat Legi dan "Sihir" Penglaris
Bagi pemburu ‘’cara instan’’ cepat kaya, Gunung Kawi sering kali diasosiasikan dengan tempat memohon berkah materi. Setiap malam puncak Jumat Legi, kawasan yang terletak di perbatasan Malang dan Blitar itu selalu disesaki ribuan peziarah dari berbagai daerah yang datang membawa harapan—mulai dari penglaris usaha hingga kejayaan karir. Baca Juga: Siapa Saja yang Cari Pesugihan di Gunung Kawi? Pesulap Merah Bongkar Data Buku Tamunya!
Jika Anda mengira daya tarik utama tempat ini adalah ritual di tengah kegelapan hutan, Anda keliru besar. Jantung dari keramaian di Gunung Kawi bukanlah aura gaib atau tempat pemujaan setan, melainkan sebuah kompleks pemakaman keramat yang suci dan dihormati lintas etnis, bernama Pesarean Gunung Kawi.
Tempat yang sering digosipkan sebagai pusat pesugihan ini justru merupakan tempat peristirahatan terakhir dua tokoh bangsawan Mataram, pejuang kemerdekaan, sekaligus pahlawan perang yang sangat luhur:
Kanjeng Kyai Zakaria II (Eyang Jugo):
Wafat pada 22 Januari 1871, beliau merupakan buyut dari Susuhanan Pakubuwono I (Raja Keraton Kartasura).
Raden Mas Imam Soedjono:
Wafat pada 8 Februari 1876, beliau merupakan buyut dari Sultan Hamengkubuwono I (pendiri Keraton Yogyakarta).
Kedua tokoh ini bukanlah dukun, melainkan mantan gerilyawan barisan Pangeran Diponegoro pada Perang Jawa (1825–1830). Setelah perang usai, mereka menanggalkan jubah kemewahan istana, melarikan diri ke timur, dan melakukan babat alas (membuka lahan) di lereng gunung yang kini dinamakan Wonosari, yang bermakna inti hutan yang mendatangkan rezeki. Baca Juga: Gunung Kawi, Salah Satu Tempat Keramat untuk Ritual
Karena keluhuran budi, karomah, dan jasa masa lalu kedua tokoh inilah, masyarakat berbondongbondong datang untuk berziarah menghormati mereka, bukan untuk melakukan ritual pesugihan kekayaan maupun jabatan.
Jadi, di balik narasi viral pesugihan yang kerap menyeret banyak nama dari berbagai latar belakang, Gunung Kawi sejatinya adalah cagar budaya luhur yang menyimpan nilai pluralisme, nasionalisme, serta keindahan alam Nusantara yang memukau. Isu mistis boleh saja viral, namun nilai historis perjuangan bangsa di tempat ini tetap menjadi fondasi yang wajib dilestarikan. (*)
Editor : Arya Nata Kesuma