Berita Utama Event Hobi Kriminal Lamongan Lamongan Banget Nasional Pendidikan Persela Politik Sportainment Tecno-Oto Wisata & Kuliner Wisata Kuliner

Fakta Baru Gunung Ratu Makam Ibunda Gajah Mada : Sintesis Sejarah, Legenda, dan Bukti Arkeologis

Redaksi • Kamis, 19 Februari 2026 | 20:14 WIB
BERPAKAIAN BUDAYA JAWA: Prosesi rangkaian peringatan 1 Suro di kompleks makam Nyai Andongsari, Gunung Ratu. (PROKOPIM/RDR.LMG)
BERPAKAIAN BUDAYA JAWA: Prosesi rangkaian peringatan 1 Suro di kompleks makam Nyai Andongsari, Gunung Ratu. (PROKOPIM/RDR.LMG)

Oleh :

Rudi Hariono, SH

Pemerhati Budaya Nusantara asal Lamongan

Gunung Ratu di Kecamatan Ngimbang, Kabupaten Lamongan merupakan situs yang memperlihatkan sintesis antara catatan sejarah resmi Majapahit, pakem cerita rakyat PB Wilwatikta Nusantara, dan bukti arkeologis lokal.

Catatan resmi seperti Nagarakretagama dan Pararaton menegaskan legitimasi politik Majapahit melalui pernikahan Raden Wijaya dengan putri Kertanegara (Raja Singosari), serta munculnya Gajah Mada sebagai Mahapatih besar.

Namun, legenda rakyat menambahkan dimensi emosional: Tribhuwaneswari, permaisuri utama, difitnah dan diasingkan ke Gunung Ratu saat sedang hamil dengan nama Dewi Andongsari. Kemudian ia melahirkan Gajah Mada.

Narasi ini menjelaskan asal-usul Gajah Mada sebagai cucu Kertanegara, yang memberi legitimasi atas kiprahnya mendirikan catya untuk Kartanegara pada 1351.

Bukti fisik di Gunung Ratu, seperti makam purba, pecahan keramik, hamparan bata merah khas Majapahit, serta sumber Sendang Tujuh, memperkuat tradisi lisan masyarakat Lamongan.

Dengan demikian, Gunung Ratu bukan sekadar situs legenda, melainkan simpul sejarah yang memperlihatkan bagaimana prasasti, cerita rakyat, dan bukti arkeologis saling melengkapi.

Sintesis ini menjadikan narasi bahwa Gajah Mada adalah putra Tribhuwaneswari dan cucu Kertanegara semakin rasional dan masuk akal, sekaligus menegaskan Gunung Ratu sebagai Tunggak Wilwatikta dalam memahami kejayaan Majapahit.

Gunung Ratu bukan sekadar situs lokal yang dikaitkan dengan legenda rakyat. Ia adalah simpul sejarah yang memperlihatkan bagaimana catatan resmi Majapahit, pakem cerita rakyat PB Wilwatikta Nusantara, dan bukti arkeologis saling melengkapi. Dari sinilah muncul narasi yang lebih rasional tentang asal-usul Gajah Mada dan legitimasi politik Majapahit.

Catatan Resmi Majapahit

Dalam Nagarakretagama dan Pararaton, Raden Wijaya (1293–1309) disebut menikahi lima perempuan. Empat di antaranya adalah putri Raja Kertanegara dari Singhasari: Sri Tribhuwaneswari (permaisuri utama), Narendraduhita, Jayendradewi, dan Gayatri. Istri kelima adalah Dara Petak dari Dharmasraya, yang kemudian bergelar Indreswari setelah melahirkan Jayanegara (raja Majapahit 1309–1328).

Untuk tujuan legitimasi politik, Jayanegara disebut sebagai putra Tribhuwaneswari, meski secara biologis ia adalah putra Dara Petak. Gajah Mada kemudian muncul sebagai Mahapatih besar, mengucapkan Sumpah Palapa, dan pada tahun 1351 mendirikan catya untuk Kartanegara serta menorehkan prasasti mewakili tujuh Raja Majapahit.

Fakta ini menimbulkan pertanyaan: mengapa seorang pejabat bisa melakukan tindakan yang biasanya hanya dilakukan oleh raja atau keturunan langsung?

Legenda Rakyat PB Wilwatikta Nusantara

Legenda rakyat memberi jawaban atas celah sejarah tersebut. Tribhuwaneswari dikisahkan difitnah dan diusir dari istana, lalu bersembunyi di Gunung Ratu dengan nama samaran Dewi Andongsari. Di sana ia melahirkan Gajah Mada, cucu Kartanegara dan putra Raden Wijaya, Raja Majapahit pertama.

Raden Wijaya dikisahkan menyesal, namun Tribhuwaneswari telah wafat di Gunung Ratu. Sejak itu, keluarga besar Singosari dan Majapahit yang tidak sepaham dengan Dara Petak menetap di Gunung Ratu, menjadikannya pemukiman bangsawan. Gajah Mada tumbuh besar, menjadi tokoh besar Majapahit, dan akhirnya kembali ke pangkuan ibunya di akhir hayatnya.

Legenda ini memberi dimensi emosional sekaligus rasional: menjelaskan asal-usul Gajah Mada dan legitimasi darah bangsawan yang sulit dijelaskan hanya dengan catatan resmi.

Bukti Fisik di Gunung Ratu Ngimbang

Tradisi lokal dan temuan arkeologis memperkuat narasi legenda:

Sintesis Sejarah dan Legenda

Kesimpulan

Gunung Ratu Ngimbang adalah tonggak sejarah Wilwatikta yang memperlihatkan bagaimana prasasti, cerita rakyat, dan bukti arkeologis saling melengkapi. Narasi bahwa Gajah Mada adalah putra Tribhuwaneswari (Dewi Andongsari) dan cucu Kartanegara menjadi masuk akal ketika dikaitkan dengan temuan fisik di Gunung Ratu.

Dengan demikian, Gunung Ratu bukan hanya situs legenda, melainkan simpul sejarah yang menegaskan identitas budaya Nusantara, sekaligus membuka ruang interpretasi baru tentang legitimasi politik Majapahit. (*)

 

Editor : Anjar D. Pradipta
#gunung ratu #Kecamatan Ngimbang #lamongan #gajah mada #majapahit