LAMONGAN, RADARLAMONGAN.CO - Sumur tua di Dusun Bura Buri, Desa Barurejo, Kecamatan Sambeng menyimpan cerita mistis, yang hingga kini masih dipercaya masyarakat sekitar.
Siapapun dilarang mengambil air di sumur tersebut saat Hari Jumat. Jika dilanggar, maka air yang diambil berbau anyir seperti darah. Selain itu, kalau air dibawa pulang akan dikerubuti banyak semut.
Terbukti, ketika wartawan koran ini ke sana Jumat (29/8), tak ada satupun orang yang mengambil air di sini. Warga sekitar memilih untuk mengambil air selain Hari Jumat.
Kesan mistis terasa ketika berada di lokasi sumur, yang di sebelahnya terdapat dua pohon besar. Sumur yang berbentuk kotak dengan ukuran sekitar 1,5 x 3 meter ini, dalamnya ada tatanan kayu. Kemudian terdapat replika Prasasti Baru tak jauh di lokasi sumur.
Menurut cerita turun-temurun, sumur tua di Dusun Bura Buri ini berkaitan erat dengan Dusun Cane, Desa Candisari, Kecamatan Sambeng. Selain itu, sumur tua ini diduga juga berkaitan erat dengan dua replika prasasti di Dusun Bura Buri dan di Dusun Cane.
Dua prasasti yang asli berada di museum di Jakarta, sehingga yang di lokasi hanya replika saja. Kades Barurejo, Bibit Asnuri mengatakan, untuk Prasasti Baru di Dusun Bura Buri dipercaya warga peninggalan Raja Airlangga.
Cerita turun temurun, terdapat raja yang dikejar dan lari ke Bura Buri. Selanjutnya ditolong Mbah Baru yang kemudian disembunyikan di batu atau namanya batu dolok.
‘’Batu dolok tempatnya orang-orang istirahat, akhirya selamat,’’ ujarnya.
Dia membenarkan, hingga kini dipercaya tidak boleh mengambil air di sumur pada Hari Jumat, terutama Jumat Legi. ‘’Kalau airnya diambil, katanya banyak semut,’’ ucapnya.
Apakah ada kaitannya antara sumur dengan prasasti?. ‘’Insyallah ada,’’ ucap Asnuri.
Kades Candisari, Hartono meyakini sumur dan replika prasasti di Dusun Bura Buri berkaitan dengan replika prasasti di Dusun Cane. Dia juga mengakui jika masyarakat percaya terkait larangan mengambil air di sumur saat Hari Jumat.
‘’Bahkan kalau diambil Hari Jumat dan dibawa pulang, itu dikerubuti semut, karena airnya berbau anyir atau berbau darah. Jadi setiap Hari Jumat tidak ada yang ambil airnya,’’ ungkapnya.
Dia menuturkan, warga biasa mengambil air untuk kebutuhan sehari-hari pada Hari Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Sabtu, dan Minggu. ‘’Air itu (sumur, Red) kalau dibuat minum, tidak ada yang terserang flu, batuk, dan pilek,’’ ucapnya. (sip/ind)
Editor : Anjar D. Pradipta